~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#46 Irish Thoroughbred


Judul Buku : Irish Thoroughbred
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 200
Penerbit : Silhouette

Sejak berumur 10 tahun,ketika kedua orang tuanya meninggal dalam sebuh kecelakaan, Adelia Cunnane harus bekerja keras bersama bibinya di lahan pertanian milik mereka. Kehidupan sangat keras bagi mereka, tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Ketika bibinya pun meninggal dunia, Adelia menjadi sebatang kara di Irlandia. Salah seorang pamannya, Paddy Cunnane, yang menetap di Amerika, mengajaknya untuk datang ke Amerika dan tinggal bersamanya.

Jadilah Adelia tiba di sebuah perternakan kuda bernama Royal Meadows milik Travis Grant. Paddy adalah salah satu pelatih kuda pacu milik Travis. Di tempat tersebut Adelia bekerja sebagai perawat kuda. Kemampuan Adelia merawat binatang menarik perhatian Travis. Hampir semua kuda di perternakan itu bisa dekat dengan Adelia.

Walaupun bertubuh kecil, Adelia dianggap memiliki lidah yang tajam oleh Travis. Seringkali mereka terlibat dalam pertengkaran, yang justru membuat Travis semakin menyukai Adelia. Dee sendiri mulai jatuh cinta pada Travis walaupun dia sadar tidak mungkin Travis akan menikahi karyawannya. Akan tetapi keadaan berbalik ketika Paddy terkena serangan jantung. Sebagai seseorang yang dianggap sosok ayah oleh Travis, dia akan memenuhi segala permintaan Paddy. Paddy meminta Travis menjaga Adelia untuknya, dan Travis menyanggupinya dengan menikahi Adelia.

Pernikahan mereka berlangsung singkat dan cepat di kamar tempat Paddy dirawat. Tanpa sepengetahuan Paddy, Travis membuat perjanjian dengan Adelia bahwa pernikahan itu akan berakhir ketika Paddy telah sembuh. Adelia menyanggupinya, walaupun dalam hati dia merasa sangat sedih karena Travis tidak bisa mencintainya sebesar cintanya pada Travis.

Kisah romantis khas Harlequin yang selalu berakhir dengan indah selalu menjadi bacaan yang menyenangkan bagi saya. Apalagi dalam buku ini bukan hanya romantisme antara Adelia dan Travis yang diumbar, tapi juga kasih sayang Adelia kepada pamannya, keponakaan kembar Travis, bahkan kepada Majesty, kuda pacu milik Travis.  Bacaan yang tepat untuk menutup bulan cinta Februari.

Buku ini adalah seri pertama dari Irish Heart yang ditulis oleh Nora Roberts. Sebenarnya sudah ada terjemahannya yang diterbitkan oleh Gramedia dengan judul Kekuatan Cinta, tapi demi janji membaca satu buku berbahasa Inggris setiap bulan, saya memilih untuk membaca versi aslinya.


#45 The Power Of Six


Judul Buku : The Power Of  Six
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 511
Penerbit : Mizan Fantasi


Awalnya saya mengira buku ini akan bercerita tentang Enam, salah satu Garde dari Planet Lorien. Tetapi ternyata Enam sudah mendapat bagian khusus di The Lost File : Six's Legacy. Apalagi kisah di buku sekuel I Am Number Four ini dibuka oleh Marina, Garde nomor Tujuh. Artinya, dalam buku ini mulai bermunculan Garde lainnya.

Marina, nama bumi untuk Tujuh, adalah seorang wanita seperti Enam. Cepannya bernama Adelina. Sejak turun dari pesawat Loriec, mereka berkelana jauh dan sepertinya mengalami nasib paling tidak menyenangkan. Terlunta-lunta di jalanan, menjadi pengemis, hingga akhirnya mereka terdampar di sebuah biara di Spanyol. Adelina, mungkin karena putus asa akan nasib yang mereka alami, kemudian menjadi biarawati dan melupakan tugasnya untuk melatih Tujuh.

Tujuh yang hampir mencapai usia 18 tahun, syarat untuk tetap berada di biara, mulai tidak betah dengan kehidupan biara. Dia tahu tempatnya bukan di situ. Ketika dia melihat berita-berita di internet tentang John Smith di Ohio, Amerika Serikat, dia berusaha mencari takdirnya. Perlahan seiring dengan munculnya Pusakanya (kemampuan untuk menyembuhkan makhluk hidup dan bernafas di dalam air), Tujuh mencoba meyakinkan Adelina akan takdir mereka.

Sementara itu, Empat, Enam, Sam, dan Bernie Kosar memulai perjalanan mereka mencari Garde lainnya. Perjalanan itu dipersulit dengan kenyataan John (Empat) dan Sam dianggap sebagai teroris yang sudah menghancurkan bangunan sekolah. Mereka menjadi salah satu dari daftar buronan FBI. Berkali-kali mereka harus meloloskan diri baik oleh kejaran polisi maupun Mogadorian. Kenyataan bahwa mantera pelindung telah terpatahkan membuat keadaan mereka semakin sulit. Yang menarik adalah romantisme di buku fantasi action ini tidak terlupakan. Sam yang menyukai Enam, juga menyadari bahwa Empat mulai jatuh cinta pada Enam. Walaupun Empat terus menyangkal dengan mengatakan dia sudah jatuh cinta pada Sarah, dan sebagai Loric mereka hanya jatuh cinta sekali seumur hidupnya. Enam sendiri menunjukkan perhatian yang sama pada Sam dan Empat.

Dalam peti Loric peninggalan Henri untuk Empat, ada sebuah surat yang ditulis oleh Henri sebelum kematiannya. Surat itu mengatakan bahwa ayah Sam adalah manusia pertama yang menolong mereka, dan ayah Sam mempunyai alat pemancar untuk menemukan Garde lainnya. Mereka memutuskan untuk kembali ke Ohio, demi menemukan alat itu. Kepercayaan diri Sam semakin bangkit, bahwa keyakinannya ayahnya masih hidup adalah benar.

Empat, Enam, Sam dan Bernie Kosar kembali ke Ohio. Saya sempat kesal membaca bagian ini, dimana Empat dengan begitu egoisnya berusaha menemui Sarah, dan mencelakakan teman-temannya. Empat menemui ganjarannya ketika Sarah ternyata mengkhianati dia, dengan menyerahkan mereka ke polisi. Untungya ada Enam yang (lagi-lagi) kembali menyelamatkan mereka.

Dibandingkan dua buku sebelumnya, saya sangat suka buku ini. Selain alurnya lebih cepat dengan adegan action lebih banyak, di buku ini mulai bermunculan Garde-Garde lainnya. Fakta tentang Lorien dan pesawat kedua yang datang juga ada di buku ini. Ternyata selain Empat, Enam, dan Tujuh, ada  juga Sembilan dan Sepuluh (Garde terakhir yang masih bayi ketika datang ke Bumi).  Tidak sabar untuk membaca buku ke tiga, The Rise Of Nine yang kabarnya akan terbit Agustus 2012 (masuk Indonesia kapan ya?)

Btw, saya penasaran dengan penulisnya, Pittacus Lore. Saya mencoba mengunjungi situsnya di sini, tapi tidak menjumpai keterangan apa-apa tentang siapa dia sebenarnya. Di sana dia mengatakan kalau dirinya salah satu tetua Loric yang turun ke bumi untuk menceritakan tentang Sembilan Garde pahlawan Lorien. Dari beberapa sumber mengatakan bahwa Pittacus Lore adalah James Frey. Ohya, di situsnya itu kita bisa mencoba aplikasi untuk mengetahui Pusaka Loric apa yang ada di dalam diri kita. Berani mencoba?



#44 The Lost File, Six’s Legacy


Judul Buku : The Lost File, Six’s Legacy
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 102
Penerbit : Mizan Fantasi

Bagian ini sebenarnya diterbitkan sebagai e-book oleh Pittacus Lore. Mizan Fantasi kemudian menjadikannya sebagai bonus di dalam buku ke-dua dari The Legacy Legend, The Power of Six. The Lost File : Six’s Legacy sendiri disebut-sebut sebagai Lorien Legacies #0.5. Kalau melihat nomornya berarti buku ini adalah prekuel dari buku I Am Number Four (Lorien Legacies #1). Untuk itulah, saya memutuskan membaca bagian ini terlebih dahulu sebelum membaca The Power of Six (Lorien Legacies #2)

The Lost File : Six’s Legacy sendiri menceritakan tentang Enam sebelum bertemu dengan Empat. Seperti halnya Nomor Empat, Enam ditemani oleh seorang Cepan bernama Katarina. Enam sendiri bernama Kelly, ketika mereka tiba di persembunyian mereka di Mexico. Namun berbeda dengan Empat yang lebih senang dipanggil John, Enam lebih menyukai nama aslinya.

Enam mendapatkan pelatihan lebih dini dari Katarina. Berbagai jurus bela diri dan pengaturan strategi dikuasai oleh Enam. Dibandingkan pelatihan-pelatihan lainnya, pelatihan fisik paling disukai oleh Enam. Suatu ketika, setelah berlatih bela diri, Katarina menemukan tulisan di sebuah blog di internet dengan nama Dua. Sebuah tulisan menarik perhatian Katarina dan Enam.

“Sembilan, sekarang delapan. Apa kalian ada di sana?”

Enam yakin itu adalah nomor Dua. Mereka memang sudah lama memantau internet dan berita dari luar negeri untuk mencari tahu keberadaan delapan Garde lainnya. Spontan Enam menjawab tulisan tersebut dengan menuliskan komentar di blog itu.


“Ya! Kami disini!”

Sedetik kemudian, garis yang menandakan Dua telah dibunuh oleh Mogadorian muncul di kaki Enam. Sejam kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju Amerika Serikat.  Dalam perjalanan Mogadorian berhasil menemukan mereka. Akan tetapi berkat mantera pelindung yang diberikan pada Garde, Enam berhasil selamat. Enam tidak dapat dibunuh jika Garde Nomor Satu sampai Lima belum mati. Katarina dan Enam berhasil lolos dan menyelamatkan diri mereka.

Di New York, sayangnya mereka tidak bisa lolos dari serbuan Mogadorian. Katarina dan Enam ditangkap dan disiksa. Dalam penyiksaan itu Katarina mati terbunuh, sementara Enam tetap ditahan. Berkat latihan fisik yang diberikan Katarina, Enam berhasil bertahan hidup. Ketika Pusaka pertamanya muncul (kemampuan menghilang tak kasat mata), Enam memanfaatkan Pusakanya itu untuk melarikan diri dari markas Mogadorian. Enam kemudian melanjutkan hidupnya dan berusaha menemukan Garde lainnya. Ketika dia melihat berita tentang John Smith yang selamat dari rumah yang habis terbakar, Enam yakin dia adalah salah satu dari empat Garde yang harus ditemuinya.

Buku setebal 102 halaman ini kemudian menjadi pengantar bagaimana akhirnya Enam berhasil menemui Empat dan menolongnya meloloskan diri dari Mogadorian. Bersama-sama mereka berusaha menemukan keempat Garde lainnya. Melalui buku ini kita bisa tahu mengapa Enam begitu tangguh jika dibandingkan dengan Empat. Bisa jadi oleh latihan fisik yang diberikan Katarina atau karena dendam atas kematian Katarina di depan matanya.


#43 I Am Number Four


Judul Buku : I Am Number Four
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 493
Penerbit : Mizan Fantasi

Sepuluh tahun yang lalu, Planet Lorien diserang oleh bangsa Mogadorian. Semuanya musnah, kecuali sembilan orang Garde dan sembilan Cepan (penjaga) mereka yang didatangkan ke Bumi. Sembilan pasang Loric yang secara fisik seperti manusia itu berpencar ke seluruh bumi, dibekali satu peti Loric. Sebuah mantera melindungi mereka dari Mogadorian, dimana kesembilan Garde tersebut hanya bisa dimusnahkan secara berurutan.

Ketika tiga orang Garde akhirnya mati, Garde ke-Empat merasa was-was karena berikutnya adalah gilirannya dibunuh. Dia dan Henri, Cepannya, harus terus berpindah dan bersembunyi. Kota Paradise, Ohio menjadi tujuan mereka selanjutnya. Untuk penyamaran mereka, Nomor Empat memilih nama John Smith, dan menjadikan Henri Smith sebagai ayahnya. John berkenalan dengan Sarah, salah satu gadis ex- cheerleader di sekolah barunya itu. John jatuh cinta pada Sarah, dan cintanya juga bersambut. John juga mempunyai seorang sahabat bernama Sam, yang sangat tertarik akan hal-hal yang berbau supernatural.

Masing-masing Garde memiliki Pusaka yang menjadikan mereka istimewa dibandingkan warga Lorien lainnya. Tidak ada yang tahu kapan Pusaka ini muncul. Kekuatan dari Pusaka inilah yang akan menjadi senjata mereka untuk melawan bangsa Mogadorian dan menghidupkan kembali planet Lorien. Ketika Pusaka itu muncul, barulah Garde boleh membuka peti Loric miliknya.

Pusaka John muncul tiba-tiba ketika dia sedang belajar astronomi di dalam kelas. Telapak tangannya bersinar seperti sebuah lampu sorot. Henri kemudian mejalankan tugasnya sebagai pelatih sehingga John bisa menguasai Pusaka-nya tersebut. Kemunculan Pusaka ini akhirnya diikuti oleh Pusaka-Pusaka berikutnya. Selain Lumen (sinar yang muncul dari telapak tangannya itu), John juga tahan dan mampu mengendalikan api, serta dapat berbicara dengan hewan.

Suatu peristiwa akhirnya mengungkap identitas Nomor Empat. Tanpa disadarinya, seseorang merekam persitiwa dimana dia menyelamatkan Sarah dari rumah yang terbakar. Di video tersebut, tampak John melompat dari lantai dua rumah yang terbakar dan tidak mengalami luka apapun. Video tersebut beredar di internet, yang mengakibatkan Mogadorian berhasil menemukan jejak mereka. Apakah Nomor Empat berhasil selamat dari Mogadorian?

Buku ini sepenuhnya menceritakan tentang Nomor Empat. Jujur saja, saya melihat sosok Nomor Empat sebagai super hero yang labil dan galau. Berkali-kali Nomor Empat melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan Cepannya, walaupun sudah diperingatkan sebelumnya oleh Henri. Saya lebih suka pada sosok Henri yang benar-benar melakukan perannya sebagai pelindung dan penjaga. Dia bahkan mengorbankan dirinya demi keselamatan Garde Nomor Empat yang dijaganya.

Dalam buku ini juga muncul Garde lainnya yaitu Nomor Enam. Berbeda dengan Nomor Empat, Nomor Enam adalah seorang gadis yang tangguh, mampu mengendalikan dirinya, dan tahu konsekuensinya sebagai seorang Garde. Pengetahuannya tentang Lorien dan asal-usulnya pun jauh lebih baik daripada Nomor Empat. Kalau salah satu endorsement di sampul buku ini yaitu dari Michael Bay mengatakan Nomor Empat adalah pahlawan bagi generasi ini, saya justru melihat Nomor Enam sebagai pahlawannya.

Terlepas dari itu, adegan demi adegan action di buku ini sangat hidup. Saya berkali-kali merasakan ketegangan ketika membaca bagian actionnya. Kelebihan lainnya adalah saya tidak menemukan typo dalam buku ini. Setelah membaca habis buku ini, saya tidak sabar untuk melanjutkan ke buku sekuelnya, The Power of Six. Untung bagi saya, Okky bersedia meminjamkan kedua bukunya ini sekaligus :)


#42 Pembunuhan di Sungai Nil


Judul Buku : Pembunuhan di Sungai Nil (Death on the Nile)
Penulis :  Agatha Christie
Halaman : 392
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Siapa yang tidak kenal dengan Hercule Poirot? Tokoh rekaan Agatha Christie yang adalah seorang detektif bertubuh kecil dan selalu berpenampilan rapi ini telah banyak mengungkap kasus-kasus kriminal.  Kali ini, Poirot mengambil kesempatan untuk berlibur ke Mesir dan menyusuri Sungai Nil.

Bersamaan dengan dia, ada sepasang suami istri yang baru saja menikah juga ikut dalam liburan ini. Mereka adalah Simon Doyle dan istrinya Linnet Ridgeway. Linnet Ridgway (atau Linnet Doyle) adalah seorang wanita berusia 20 tahun yang merupakan salah satu konglomerat di Inggris. Dia baru saja membeli rumah yang besar. Awalnya Linnet dikabarkan bertunangan dengan Lord Windlesham. Tapi entah mengapa, dia akhirnya menikah dengan Simon Doyle, yang tak lain adalah mantan tunangan Jacqueline Bellefort, sahabatnya.

Tanpa disangka, Miss Bellefort ternyata juga ada dalam perjalanan wisata ke Mesir itu. Mr. dan Mrs Doyle merasa terganggu dengan kehadiran Miss Bellefort, dan meminta Hercule Poirot berbicara dengan Miss Bellefort. Rupanya Miss Bellefort masih merasa sakit hati dengan pernikahan mantan tunangannya dengan sahabatnya itu. Dia berniat untuk terus membuat pasangan itu tidak nyaman dengan kehadirannya. Tentu saja Mr. dan Mrs. Doyle tidak dapat berbuat apa-apa karena Miss Bellefort tidak memberikan ancaman apapun pada mereka. Miss Bellefort juga mengatakan ingin sekali membunuh pasangan itu. Dia bahkan memperlihatkan pistol kecil miliknya kepada Poirot. Poirot menasehatinya agar tidak melakukan perbuatan keji dan rendah tersebut.

Perjalanan menyelusuri Sungai Nil dengan kapal penumpang terus berlanjut. Hingga suatu malam Miss Bellefort dalam keadaan mabuk menembak kaki Simon Doyle yang bermaksud menenangkannya. Miss Belelfort terkejut akan perbuatannya dan menjadi histeris. Sementara dia ditangani oleh beberapa penumpang lain, Simon Doyle yang mengalami retak pada tulang kering di kakinya terpaksa harus tidur dalam keadaan diberi morfin penghilang rasa sakit. Mr. Doyle melarang siapapun memberitahu Linnet mengenai kejadian ini supaya Linnet tidak khawatir. Tentunya Linnet tidak akan tahu, karena keesokan paginya dia ditemukan tewas dengan kepala berlubang karena tertembak oleh pistol yang sama yang digunakan oleh Miss Bellefort kepada Simon Doyle. Di samping jasad Linnet terdapat tulisan huruf “J” yang berwarna merah, dan salah satu ujung jari Linnet pun berwarna sama. Apakah Linnet berusaha memberitahu pembunuhnya sebelum dia meninggal?

Buku ini sendiri pertama kali diterbitkan di Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1979, dan sudah lima kali cetak ulang hingga tahun 2011. Tidak seperti kisah-kisah Hercule Poirot biasanya, kematian seseorang baru terjadi di pertengahan buku ini. Tapi dengan analisa-analisa yang tajam dia mampu mengungkapkan misteri pembunuhan wanita tersebut. Saya pribadi tidak mampu menebak siapa pembunuhnya hingga di akhir cerita. Yang unik adalah lokasi kejadian yang bukan di Inggris seperti biasanya, tapi di Mesir dan tepatnya di Sungai Nil. Ada beberapa kota di Mesir yang dituliskan di buku ini tapi tidak digambarkan secara rinci. Agatha Christie sendiri lebih menggambarkan tokoh-tokoh dalam ceritanya lebih spesifik.

Hari ini merupakan posting bersama buku Agatha Christie oleh beberapa anggota BBI. Saya sendiri sudah membaca beberapa karya Agatha Christie, tapi baru kali ini mereview bukunya. Cukup menantang juga mengingat banyaknya tokoh-tokoh yang terlibat dalam setiap kejadian kriminal yang diceritakan dalam buku ini.


Agatha Christie (15 September 1890 – 12 Januari 1976) dikenal sebagai The Queen of Crime. Dia sudah menulis 66 cerita detektif dengan menggunakan beberapa tokoh detektif. Dua diantaranya yang paling terkenal adalah Hercule Poirot dan Jane Marple. Agatha juga menulis beberapa cerita romance dengan menggunakan nama pena Mary Westmacott. Death on the Nile sendiri diterbitkan pertama kali pada tahun 1973 di Inggris dan sudah pernah difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 1978, bahkan dibuat dalam bentuk PC-game “hidden object” pada tahun 2007. Pada tahun yang sama (2007), novel ini diterbitkan dalam bentuk novel grafis oleh penerbit HarperCollins. Untuk mengetahui lebih jelas tentang Agatha Christie anda bisa mengunjungi website resminya di http://agathachristie.com.

Well, untuk konflik sungai Nil saya akan berikan bintang tiga.


#41 Manusia Setengah Salmon


Judul Buku : Manusia Setengah Salmon
Penulis : Raditya Dika
Halaman :272
Penerbit : Gagas Media


Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan dari Raditya Dika yang ke-enam setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot dan Marmut Merah Jambu.  Gaya bercerita komedi berdasarkan pengalaman sehari-hari yang sama juga dilakukan oleh Raditya Dika di buku ini. Kali ini, disamping cerita agak panjang yang ditulisnya, ada juga beberapa artikel kumpulan kicauannya di twitter.

Kali ini tema besar yang diusung dalam buku Manusia Setengah Salmon adalah tentang perpindahan. Raditya menceritakan tentang pengalamannya pindah rumah, hingga perasaannya saat pindah ke lain hati. Yang menarik adalah ketika Raditya menganalogikan perpindahan yang dia alami seperti perpindahan ritual yang dilakukan oleh ikan Salmon. Ikan Salmon setiap tahunnya akan melakukan mutasi dari hulu ke hilir hanya untuk bertelur. Ketika anak-anaknya sudah menetas, Salmon akan kembali ke tempat asalnya. Perpindahan yang dialami oleh ikan Salmon bukan tanpa resiko. Tidak sedikit Salmon yang mati selama perpindahan itu. Raditya mengibaratkan dirinya (dan mungkin banyak di antara kita) yang ketika mengalami perpindahan harus berjuang. Ada yang bisa saja terhilang dari diri kita setelah perpindahan itu, tapi juga hal baru yang akan mewarnai kehidupan selanjutnya.

Nyaris tidak ada yang baru dari buku Manusia Setengah Salmon jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Masih lucu (bahkan ada yang terkesan dipaksakan lucu seperti pada tulisan "Interview with the Hantus"). Beberapa tulisan tetap diambil dari blognya yang sudah makin jarang di-update itu.  Bahkan ada satu tulisan yang berjudul Kasih Ibu Sepanjang Belanda sudah pernah dimuat dalam buku The Journeys, yang juga diterbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2011.

Saya hanya memberikan bintang dua untuk buku kali ini. Disamping beberapa typo, seperti kata jerit malam yang seharusnya jurit malam, belite yang seharusnya belit (lupa halaman berapa),  saya kurang dapat gregetnya membaca buku ini. Seperti kata seorang teman di twitter bahwa dia sudah berada pada garis lelah membaca buku ke- enam dari Raditya Dika. Kalau perasaan seperti ini hanya saya dan teman saya itu yang merasakan, berarti mungkin kami yang harus berpindah ke jenis buku yang lain :)

By the way, masih ingat dengan Si Kebo di buku Kambingjantan? Itu.. (mantan) pacarnya Raditya yang juga difilmkan. Akhirnya di buku ini, terungkap juga nama aslinya, yang selama ini selalu dirahasiakan. Siapa namanya? Silahkan baca sendiri bukunya ya... :)


#40 Ai


Judul Buku : Ai
Penulis : Winna Efendi
Halaman : 288
Penerbit : Gagas Media


Awalnya hanya ada Ai dan Sei. Mereka lahir pada tanggal dan bulan yang sama, hanya saja Ai setahun lebih tua daripada Sei. Pertemuan pertama mereka adalah ketika Sei terduduk di atas salju mengangisi Shin, marmutnya yang mati. Ai menghibur lelaki kecil itu, dan mereka bersama-sama menguburkan Shin di dalam salju. Sampai di tahun terakhir SMA, Ai dan Sei selalu bersam-sama, kecuali ketika Ai harus pergi dengan ibunya ke Bali, meninggalkan ayah Ai di Jepang. Ketika ibu Ai meninggal, Ai kembali seorang diri ke Jepang dan kembali hidup bersama ayahnya. Sejak saat itu Ai dan Sei saling berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain. Di tahun terakhir SMA itu, datanglah Shin, pemuda dari Tokyo, dan menjadi sahabat ketiga mereka. Jadilah, Sei, Ai dan Shin sahabat yang selalu bersama-sama.

Pilihan untuk bersama itu berlanjut ketika ketiganya berhasil masuk ke Universitas Todai di Tokyo.  Ketiganya juga menempati apartemen yang sama. Akan tetapi pilihan untuk tetap bersama menjadi lebih sulit (bagi Sei), ketika Ai dan Shin memproklamirkan diri mereka menjadi sepasang kekasih. Sei, yang sudah lama memendam perasaan kepada Ai harus mengalah demi kebahagiaan Ai.

Sayangnya, kebahagiaan itu berlangsung singkat. Mereka (kembali) harus kehilangan sosok Shin, yang meninggal akibat kecelakaan. Mereka bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada Shin. Ai menjadi orang yang berbeda.  Sei sekali lagi memilih tetap di samping Ai, menjaga Ai, dan melindungi Ai.

Selain ketiga tokoh di atas, ada satu tokoh lagi yang juga mengambil peran penting yaitu Natsu (dan saya pribadi lebih menyukai tokoh yang satu ini). Gadis yang bekerja di restoran ramen tempat Sei bekerja ini, jatuh cinta pada Sei. Sei dan Natsu bahkan hampir hidup bersama, walaupun Natsu sudah teahu sedari awal hanya ada Ai di hati Sei. Natsu jugalah yang kemudian menyadarkan Ai tentang cinta sejatinya. Walaupun Natsu harus kehilangan lagi. Ada satu kalimat yang membuat saya jatuh cinta pada Natsu, adalah ketika dia dengan tegasnya mengkritik Ai yang sudah merebut Sei darinya. Kalimat yang sama yang menyadarkan Ai akan cinta sejatinya.
“Aku tidak membencimu. Yang aku benci adalah orang-orang lemah yang tidak bisa berdiri pada kedua kaki mereka sendiri, selalu bergantung dan menyebabkan penderitaan pada orang lain”
 Kisah cinta segitiga berlatar belakang kota Tokyo dan sekitarnya, serta budaya Jepang yang kental mengalir manis dari tulisan Winna. Hal yang unik adalah kisah segitiga ini diceritakan dari sudut pandang Sei dan Ai secara bergantian. Walaupun porsi Sei lebih banyak, tapi pada porsi Ai ada penyelesaian konflik segitiga ini. Saya juga suka dengan ornamen sakura di setiap halaman buku ini, yang membuat nuansa Jepangnya semakin terasa.



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#39 Loe Gue End


Judul Buku : Loe Gue End
Penulis : Zara Zettira ZR
Halaman :  335
Penerbit : Vinca Inc.

Berawal dari membaca blognya Ms. Complaint yang berjudul sama, akhirnya saya terdampar di blog-nya mbak Zara, yang kala itu hampir menyelesaikan cerita berseri berjudul Loe Gue End itu. Dari blognya juga saya mendapatkan informasi kalau cerita berseri tersebut akan diterbitkan menjadi sebuah buku oleh beliau, dan pemesanan bisa dilakukan via email. Saya tertarik dengan tulisan "kisah nyata" dan "mendapat banyak tanggapan dari pengunjung", sehingga tanpa pikir panjang saya segera ikut memesan buku tersebut. Lagipula saya tidak merasa nyaman membaca tulisan panjang di layar laptop.

Pemesanan saya lakukan bulan November, dan bukunya datang sekitar awal Desember, lengkap dengan tanda tangan mbak Zara Zettira ZR. Tapi, saya baru berkesempatan untuk membacanya di bulan Februari ini.

Buku ini adalah kisah dari Alana, seorang pecandu alkohol yang juga anak dari dokter bedah palstik ternama di Jakarta. Kehidupan Alana yang penuh kemewahan membuat dia selalu bisa mendapatkan alkohol setiap harinya. Kalau di sampul bukunya dia disebut drug addict, sebenarnya tidak juga. Walaupun demikian, Alana kadang menggunakan obat-obatan terlarang itu untuk menurunkan berat badannya, atau jika dia tidak bisa mendapatkan alkohol. Maklumlah, Alan harus menjaga postur tubuhnya demi kariernya di dunia modelling. Alana punya genk, D Ngocols namanya. Isinya juga anak-anak orang kaya di Jakarta. Ada Fifi, Tomi, Yosi, Lina, Radit dan Vira. Mereka sering berkumpul dan pesta miras serta obat-obatan. Berbagai macam istilah obat terlarang ada di buku itu.

Sejak lahir, Alana tidak mengenal ibunya. Dia hanya memiliki ayah yang sibuk dengan dunia kerjanya. Suatu ketika Alana terusik dengan kehadiran Santika.  Santika muncul bersamaan dengan serangkaian kejadian yang membuat shabat-sahabatnya mengalami musibah. Fifi meninggal, Tomi lumpuh, pesawat Vira kecelakaan, Lina ditangkap oleh polisi, semuanya setelah mendapatkan email dari Santika. Anehnya mereka tidak bisa melacak Santika ini, walaupun sudah menggunakan jasa intel di Mabes Polri. Hingga akhirnya, mobil milik Alana rusak parah dengan baretan Santika di kap mobilnya. Alana memutuskan untuk pergi ke Bali, untuk bersembunyi dan menyepi.

Tanpa dia duga, di Bali dia bertemu dengan ibunya. Tepatnya, ibunya sengaja untuk menemui dia. Alana tidak bisa menerima begitu saja penjelasan ibunya, apalagi setelah ibunya mengatakan dia punya saudara kembar bernama Santika. Alana sangat terkejut dengan kenyataan bahwa dia mempunyai saudara kembar yang fisiknya jauh berbeda dengan dirinya.  Kontan saja, Alana menuntut pertanggung jawaban Santika atas musibah yang menimpa sahabat-sahabatnya. Tetapi kemudia Santika menjelaskan mengenai kemampuan Astral Projection yang mereka miliki berdua, dimana jiwa mereka mampu keluar dari tubuh badaninya dan saling mengunjungi, ataupun berkunjung ke tempat lainnya. Hal ini juga menjelaskan mengapa Alana terkadang ketika melamun atau lagi high dengan alkoholnya merasa seperti mengunjungi tempat-tempat tertentu. Santika menjelaskan bahwa dia melakukan semuanya itu demi melindungi Alana adiknya dari pengaruh buruk teman-temannya.

Alana yang masih tidak percaya dibawa oleh Santika mengunjungi "dunia mereka". Sayangnya, Alana tersesat dan masuk ke dunia antara hidup dan mati. Di sana dia bertemu dengan Fifi, yang belum menerima kematiannya. Sementara itu, di dunia nyata, Alana mengalami mati suri.

Kisah nyata ini ditulis kembali oleh mbak Zara berdasarkan email-email yang dikirim oleh Alana sendiri kepada mbak Zara. Beberapa tokoh dan lokasi sengaja disamarkan demi menjaga nama baik orang-orang yang terkait di dalamnya. Akhir ceritanya sendiri bisa dibilang menggantung, karena tiba-tiba pada bab terakhir (yang juga adalah email terakhir dari Alana) Alana seperti ingin menyudahi saja ceritanya yang sudah panjang dan berbelit-belit itu.

Saya memberikan bintang dua saja untuk keberanian Alana menceritakan tentang dirinya, padahal itu bisa saja berarti mengungkap aibnya. Yang membuat saya terganggu adalah banyaknya typo (ciri khas self publishing), kemudian tata letak pada beberapa bab terakhir yang kacau (ada beberapa kalimat dari bab sebelumnya yang "tersangkut" di bab berikutnya).  Di samping itu, gaya bercerita Alana yang berbelit-belit juga membuat saya harus membolak-balik bukunya untuk memahami kisahnya (terkadang ketika Alana bercerita tentang sesuatu, tiba-tiba saja terselip percakapan yang entah kapan waktunya). Saya juga ga suka dengan sampulnya. Ga tahu siapa saja yang dimaksud dengan tiga orang model di sampul itu. Padahal kalau mau melihat ceritanya, harusnya di situ bisa profil Alana dan Santika saja.

Mengenai kemampuan astral projection, saya percaya kemampuan itu ada.  Seorang sahabat saya pernah menceritakan bahwa dia punya kemampuan itu. Bukan saja di rentang waktu yang sama, jiwanya bahkan bisa mengembara ke masa lalu. Kalau ngelihat dia hanya diam dan bengong seperti "kosong", bisa jadi dia lagi "jalan-jalan".  Kabarnya kemampuan seperti ini bisa dilakukan oleh siapa saja, setelah melewati proses latihan. Tapi seram juga mikirin bagaimana kalau ga bisa balik lagi ke tubuh aslinya.

Ohya, menurut bukunya, kisah ini akan difilm-kan segera. Tapi setelah membaca bukunya, rasanya saya tidak tertarik untuk menonton filmnya. Maaf .. :)


#38 Writer vs Editor


Judul Buku : Writer vs Editor
Penulis : Ria N. Badaria
Halaman : 312
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan...

Kalimat di atas sepertinya menjadi garis besar dari novel kedua karya Ria N. Badaria. Ketiga tokoh di dalamnya, Nuna (the writer), Rengga (the editor), dan Arfat (the chief-editor) sama-sama tidak menyangka jalan hidup mereka melenceng dari apa yang mereka rencanakan.

Nuna, awalnya ingin jadi penulis setelah membaca Harry Potter pemberian seseorang yang dikaguminya. Tapi akhirnya dia menjalani hari-harinya sebagai seorang karyawati di swalayan waralaba di Bogor. Walaupun demikian, Nuna masih mengirim beberapa draft novelnya ke penerbit-penerbit lokal. Penolakan demi penolakan diterima oleh Nuna, hingga akhirnya GlobalBooks menerima draft novelnya.

Rengga, editor yang bertanggung jawab atas naskah milik Nuna merasa bahwa novel Nuna akan menjadi best seller. Sayangnya Rengga mengalami kesulitan menghubungi Nuna, karena Nuna tidak mempunyai handphone. Hingga suatu waktu Nuna berhasil dihubungi, dan Rengga menyiapkan rencana untuk memberikan pelajaran buat penulis muda tersebut. Di restoran Jepang dekat GlobalBooks, Rengga dan temannya Radit berhasil membuat Nuna terkejut karena harus membayar tagihan makanan mereka berdua (dengan harga yang cukup mahal bagi Nuna, tentunya).

Di kantornya, Rengga sendiri menghadapi masalah ketika Kepala Editor bagian Fiksi harus diganti. Penggantinya adalah seorang lelaki lulusan sekolah sastra di Australia. Yang membuat Rengga lebih heran lagi adalah ketika Arfat, Kepala Editor yang baru, meminta Rengga untuk menghubungi Nuna agar datang ke kantor GlobalBooks. Di luar dugaan, Nuna mengenal Arfat, yang tak lain adalah cinta terpendamnya yang memberikan buku Harry Potter kepadanya dulu.

Singkat cerita, Arfat dan Nuna jadian. Cinta lama yang bersemi kembali. Setelah Arfat berhasil menggaet Nuna, Rengga baru menyadari bahwa dia juga mencintai Nuna. Dilema yang dihadapi oleh Rengga adalah bersaing dengan boss-nya sementara dia tahu Nuna begitu memuja Arfat. Mana mungkin Rengga bisa memenangkan hati Nuna?

Cinta segitiga adalah hal yang sering diangkat di dalam novel-novel Metropop. Yang menjadi unik dari cerita ini adalah latar belakang ceritanya yang mengangkat setting sebuah penerbitan. Sayangnya, penulis tidak terlalu mengeksplorasi tentang pekerjaan penulis dan editor ini. Tadinya saya berharap mengetahui bagaimana prosesnya sebuah naskah dari penulis sampai ke editor, kemudian naik cetak, dan menjadi best seller.  Hal kedua yang tidak biasa adalah kurangnya taburan merk pada novel Metropop ini. Hanya ada Nissan Terano milik Arfat dan CRV Silver milik Rengga. Nuna sendiri digambarkan sebagai gadis yang tinggal di sebuah rumah yang terletak di gang dengan kehidupannya yang sederhana.

Alur cerita cukup menarik dengan ending yang bisa ditebak, plus sedikit kejutan di akhir cerita. Saya lumayan suka dengan gaya penulisan Ria yang mengalir (walaupun agak terganggu dengan restoran Jepang yang berkali-kali muncul di cerita ini, gak ada restoran lain apa di Jakarta?). Ada beberapa adegan-adegan berbau Korea (kabarnya penulisnya memang menyukai dorama-dorama Korea). Sampulnya juga unik, dengan tumpukan buku-buku yang menggambarkan pekerjaan penulis dan editor.


#37 Celebrity Wedding


Judul Buku : Celebrity Wedding
Penulis : aliaZalea
Halaman : 328
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Revel adalah seorang penyanyi pop rock dan pemilik dari manajemen artis MRAM. Pria dengan wajah tertampan itu tentu saja menjadi dambaan banyak gadis di Indonesia. Sayangnya Revel sudah mempunyai pacar bernama Luna, artis berwajah cantik keturunan Indo-Jerman. Suatu waktu Revel dan manajernya mendatangi kantor Inara, dan mereka secara spesifik meminta Inara untuk menangani keuangan Revel dan manajemennya. Sebagai akuntan publik yang memiliki sertifikasi Internasional, Inara tidak mampu menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh atasannya.

Pada saat Inara dan Revel bertemu untuk pertama kalinya, baik Inara maupun Revel sudah merasakan perasaan khusus antara mereka. Akan tetapi, keduanya menyangkali perasaan itu. Mana mungkin Revel yang tampan itu akan jatuh cinta pada gadis mungil berwajah pucat seperti Inara?

Hingga akhirnya Revel diterpa gossip karena Luna hamil. Karier Revel terancam, terlebih lagi bukan dia ayah dari bayi yang dikandung Luna. Untuk menyelamatkan kariernya, atas inisiatif mamanya, Revel menawarkan sebuah kontrak pernikahan pada Inara, satu-satunya gadis yang dianggap aman oleh Revel. Inara yang sudah bosan dengan perlakuan keluarganya yang terlalu protektif menerima kontrak itu.

Pernikahan mewah pun diadakan, Revel dan Inara menjadi sepasang suami-istri di atas kertas. Dan ketika benih cinta mulai bersemi di antara mereka, pernikahan ini pun mulai menjadi pernikahan sungguhan. Konflik muncul lagi ketika Luna kembali datang kehidupan mereka, dan kontrak nikah itu habis masa waktunya. Sesuai kesepakatan Revel dan Inara harus bercerai. Tapi bagaimana jika salah satu dari mereka menolak hal tersebut?

Ide ceritanya sebenarnya bukan hal yang baru, nikah kontrak antara sepasang pria dan wanita, yang kemudian salah satu (atau keduanya) ternyata benar-benar jatuh cinta. Ending-nya pasti sudah bisa ditebak. Apalagi konflik dari luar tidak terlalu terasa mengganggu.

Nyaris tidak ada typo dalam buku ini. Hanya ada beberapa singkatan yang mungkin terlupakan oleh penulis untuk dijabarkan. Seperti misalnya pada halaman 126, ketika Revel dan Inara mendiskusikan menu catering pernikahan mereka, Revel menekankan bahwa semua masakan harus dimasak menggunakan EVOO, dengan alas an EVOO jauh lebih sehat daripada minyak goreng. Sampai di akhir bab saya tidak menemukan penjelasan dari EVOO itu. Saya perlu membuka halaman Google untuk mencari kepanjangan dari kata EVOO yang adalah Extra Virgin Olive Oil. Singkatan lainnya misalnya MARM yang adalah nama manajemen artis dari Revel. Silahkan menebak sendiri kepanjangan dari MARM itu.

Setelah membaca dua karya aliaZalea lainya seperti Blind Date dan Miss Pesimis, rasanya tidak terlalu heran lagi ketika membaca Celebrity Wedding ini. Adegan romance seperti halnya kisah-kisah Harlequin bisa dijumpai di buku ini. Walaupun tidak bertaburan merk seperti metropop pada umumnya, tapi kehidupan ala kalangan atas masih terasa kental di buku ini.


#36 Alita @ Heart


Judul Buku : Alita @ Heart
Penulis : Dewie Sekar
Halaman : 448
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Melihat dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini ada hubungannya dengan buku berjudul Alita @ First. Ya, buku Alita @ Heart merupakan sekuel atau buku kedua dari dwilogi Alita. Kalau di buku Alita @ First menceritakan kasih tak sampai-nya Alita dan Yusa (kakaknya), maka di buku kedua ini menceritakan tentang pemulihan hati dan pencarian cinta Alita dan Yusa. Berbeda dengan buku pertama yang diceritakan dari sudut pandang Alita, di buku kedua ini ada tiga orang yang bercerita. Alita, Yusa, dan Gading.

Baik Alita maupun Yusa yang sama-sama (tetap) melajang di buku pertama, menjadi tumpuan harapan orangtuanya (khususnya Yang Mulia Mama) untuk segera menikah mengingat usia mereka yang sudah layak untuk berumah tangga. Walaupun tidak nyaman dengan tuntutan mamanya, tapi sebagai anak yang baik, keduanya berusaha menyenangkan hati mamanya.

Yusa jatuh hati pada Abel, sahabat Alita. Yang mengejutkan perasaan Yusa ini sudah mulai tumbuh sejak mereka pindah ke Jakarta, yang artinya sejak Abel masih pacaran dengan Juno. Akan tetapi Yusa ragu buat nembak Abel, karena sepertinya Abel sedang dekat dengan Gading, duda kaya pemilik restoran yang juga adalah pelanggan toko bunga Abel. Ketika Alita tahu kakaknya jatuh cinta pada sahabatnya, tentu saja Alita sangat senang. Bahkan diam-diam Alita juga sebal dengan Gading yang mendekati Abel.

Gading merasakan ketidak sukaan Alita padanya. Dia mulai mendekati Alita untuk mengetahui mengapa Alita selalu sins dan sebal padanya (walaupun Alita tidak menunjukkannya dengan terang-terangan). Belakangan, ketika Alita tahu Gading hanya menganggap Abel sebagai teman, akhirnya Alita juga berteman dengan Gading. Bahkan ketika Yusa akhirnya jadian dengan Abel, Alita malah semakin dekat dengan Gading.  Ternyata mereka sama-sama pernah merasakan kehilangan orang yang dikasihi, dan hal itulah yang membuat mereka menjadi dekat.  Hanya ada satu masalah. Gading sepertinya masih menyimpan rasa cinta untuk mantan istrinya. Sementara Alita harus melupakan Erwin yang sudah mati.

Alita cemburu pada Gading. Bukan karena Gading masih mencintai mantan istrinya, tapi karena Gading masih punya kesempatan untuk mengejar kembali cintanya yang hilang itu. Alita mendesak Gading untuk kembali pada mantan istrinya. Sementara Gading menuruti desakan Alita, Alita kembali merasakan kehilangan yang sama ketika dia kehilangan Erwin.

Dengan tiga sudut pandang orang yang berbeda, cerita dalam buku ini menjadi semakin “kaya”. Setidaknya saya tidak perlu terlalu larut dalam pikiran galau Alita. Hanya saja, menurut saya ada beberapa tokoh yang rasanya tidak perlu ada, seperti Lee, Mas Bagas, dan Rama. Dengan adanya tiga tokoh tadi, petuah-petuah tentang cinta dalam buku ini semakin bertambah, dan tentu saja menambah tebal halaman bukunya.  Saya sempat bosan dengan percakapan yang intinya itu-itu saja berulang-ulang.

Tapi mendekati halaman akhir, ceritanya main manis. Sudah lama saya tidak membaca novel yang membuat hati saya berdesir karena cerita cintanya.  Dialognya pun kembali mengalir lancar. Saya suka dialog-dialog lewat SMS atau BBM yang dilakukan para tokoh. Walaupun buku ini bertajuk Metropop, tapi dengan dialog yang mengalir tadi, rasanya lebih “membumi”.

Satu lagi perbedaan antara buku pertama dan buku kedua, adalah ending-nya. Tidak akan saya ceritakan kok… biar kalian membaca bukunya langsung J



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#35 Alita @ First


Judul Buku : Alita @ First
Penulis : Dewie Sekar
Halaman : 328
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Alita, tokoh utama dalam buku ini jatuh cinta pada Erwin. Sayangnya Yusa, kakak Alita, yang adalah  juga sahabat Erwin sudah mewanti-wanti Alita agar tidak jatuh hati pada Erwin. Soalnya Erwin itu cowok playboy yang brengsek. Dia selalu memanfaatkan pesona dirinya untuk memikat banyak gadis. Tapi yang namanya jatuh cinta apa bisa dilarang?

Yusa sendiri punya pacar bernama Ava. Ava juga menasihati Alita untuk tidak jatuh cinta dengan Erwin. Alita yang menganggap Ava sebagai kakaknya sendiri,tentu menghormati pendapat Ava. Sayangnya Ava tidak berumur panjang. Ava meninggal dunia dua  bulan sebelum menikah dengan Yusa.

Erwin sendiri awalnya menganggap Alita hanya sebagai adiknya saja, dan memperlakukan Alita dengan penuh kasih sayang layaknya seorang kakak. Baik Erwin maupun Alita sama-sama suka menulis puisi. Ketika mereka berdua mengunjungi telaga Menjer, mereka membuat Perjanjian Menjer yang isinya mereka akan saling mengirimkan puisi setiap bulannya. Ada satu puisi yang dikirim Alita kepada Erwin yang menurutku sangat bagus.
Sudahkah?
Adalah hujan bulan juni yang mengingatkanku pada lintasan sepi saat malam luruh ke bumi dan bebukitan menghitam di kejauhan dan sepanjang perjalanan kau hanya sejangkauan
Sudah sempatkah kubilang kukekasihi jutaan aksara dengan rindu-dendam yang kupelajari diam-diam dari bintang-bintang yang padam berabad-abad silam sampai senyummu meledakkan dunia kecil dan nyaman yang semula selalu kuhuni seorang diri dengan senang hati?
Sudah sempatkah kuungkap betapa aku merasa tak lengkap sejak kaubuat hatiku jatuh tanpa sebab?
Sudah sempatkah kukatakan adalah sudah sehingga cukup sudah kau sajalah?
Nah, sekarang sudah…

Alita yang terus menerus menyimpan rasa cintanya pada  Erwin akhirnya diketahui oleh Erwin tepat saat dia akan  menikah. Alita patah hati. Tetapi bahkan hingga Erwin bercerai dengan istrinya, dan Erwin ingin bersama-sama dengan Alita, Alita tetap menolaknya dengan alasan semua orang terdekatnya tidak akan setuju jika dia jadian dengan Erwin.

Untungnya kisah cinta yang sedih, galau, dan tak sampai ini bisa diceritakan oleh penulisnya dengan baik. Walaupun saya sempat berpikir, Alita ini terlalu naïf dan tidak menghargai cintanya sendiri. Alita menutup pintu hatinya demi cintanya pada Erwin. Lanjut saya berpikir, memangnya kenapa dengan cowok playboy. Memang sih Erwin digambarkan sebagai don juan yang bisa tidur dengan wanita siapa saja yang terjerat pada pesonanya. Tapi belakangan setelah bercerai Erwin berubah. Hanya saja Yusa dan Alita tetap menutup mata atas perubahan Erwin. Mereka tetap menilai Erwin berdasarkan masa lalunya.

Endingnya tidak terduga. Sebagai bocoran, hingga akhir kisah ini masih terasa galau. Berhubung ada sekuelnya, saya masih menggantungkan harapan di buku kedua nanti ceritanya tidak lebih galau.



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

PSS. Thanks buat Nike atas pinjaman bukunya :)