~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#58 Selene Putri Sang Cleopatra


Judul Buku : Selene Putri Sang Cleopatra
Penulis : Michelle Moran
Halaman : 499
Penerbit : Esensi


Jika kita melihat sejarah antara Mesir dan Romawi di masa lampau, kita akan menemukan beberapa nama seperti Julius Caesar, Cleopatra VII, dan Tiga Serangkai : Oktovianus, Markus Antonius, dan Lepidus. Ketika Julius Caesar dibunuh oleh Brutus dan Cassius, Tiga Serangkai inilah yang bangkit untuk mengalahkan pembunuh Caesar tersebut. Akan tetapi persekutuan antara Tiga Serangkai tidak bertahan lama. Markus Antonius yang terpikat pada Cleopatra memilih untuk tinggal di Alexandria, Mesir dan meninggalkan Romawi, termasuk juga istrinya Oktavia (kakak dari Oktavianus).  Markus Antonius akhirnya menikah dengan Cleopatra dan memiliki tiga orang anak, Alexander, Selene, dan Ptolemius. Alexander dan Selene adalah anak kembar. Kehadiran ketiga anak tersebut semakin memicu perpecahan di antara Tiga Serangkai.

Pecahnya Tiga Serangkai diikuti dengan permusuhan di antara mereka. Ketika kekuasaan Lepidus direbut Oktavianus, Oktavianus pun bangkit melawan Markus Antonius. Lewat pertempuran laut di Aktium, Markus Antonius mengalami kekalahan. Ketika Markus Antonius dibunuh, dan Cleopatra melakukan bunuh diri karena tidak mau menjadi tawanan Oktavianus. Ketiga anak mereka akhirnya dibawa ke Romawi oleh Oktavianus. Sayangnya, Ptolemeus meninggal dalam perjalanan dan mayatnya dibuang ke laut.

Di Romawi, Alexander dan Selene dianggap sebagai tamu, dan dirawat oleh Oktavia. Meskipun datang sebagai tawanan perang, mereka berdua bisa tinggal di Villa Palatina milik Oktavianus.  Bagaimanapun juga mereka memiliki darah Romawi, walaupun secara fisik mereka terlihat seperti orang Mesir. Alexander memiliki keahlian berkuda, sementara Selene lebih tertarik pada arsitektur. Kemampuannya menggambar sketsa dan menguasai beberapa bahasa membuatnya semakin disayangi oleh Oktavia. Kepandaiaannya merancang bangunan dan  memilih bahan yang baik suatu waktu nanti akan menyelamatkan dirinya dari kekuasaan Oktovianus.

Berbeda dengan dua buku tentang Ratu Mesir sebelumnya (Nefertiti dan Nefertari), kali ini Selene tidak terlalu berperan dalam pemerintahan. Novel ini lebih banyak menceritakan tentang kondisi Romawi di bawah pemerintahan Caesar Oktovianus melalui sudut pandang Selene. Salah satu kondisi yang mendapat porsi cukup besar (dan menjadi benang merah dalam cerita ini) adalah tentang perbudakan. Pada saat itu, lebih dari separuh penduduk Romawi adalah budak dari berbagai bangsa. Mereka diperlakukan secara tidak manusiawi, diperjual-belikan, diadu dengan hewan buas, semuanya demi kesenangan penduduk yang memiliki kewarganegaraan Romawi. Jika ada seorang budak yang merugikan tuannya, maka seluruh budak harus menanggung akibatnya. Kondisi ini memicu pemberontakan bawah tanah oleh seorang yang disebut Elang Merah. Elang Merah selalu menempelkan pengumuman yang mengisyaratkan perlawanan terhadap Caesar Oktovianus. Beberapa kali juga Elang Merah menyelamatkan budak-budak yang tertindas. Yang jelas Elang Merah adalah ancaman bagi kekuasaan Caesar.

Selene, dalam hatinya, menentang perbudakan. Dia sendiri merasa dirinya tidak berbeda dengan nasib budak, karena masa depannya ditentukan oleh Caesar Oktovianus. Suatu waktu Selene membeli kebebasan seorang budak kesayangan Oktovia, setelah Gallia (nama budak itu) nyaris diperkosa oleh seorang senator tua. Selene pun ingin membangun sebuah rumah untuk anak-anak terlantar yang ditinggalkan oleh orangtua mereka di jalanan.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah bahwa dalam usia yang masih belia (12 tahun), Selene mampu merancang sebuah bangunan, memikirkan persoalan yang dihadapi rakyat, termasuk segala intrik dalam kekuasaan Romawi. Bukan hanya Selene, saudara-saudara tirinya dan anak-anak Caesar, bahkan sudah memikirkan tentang pernikahan dan kekuasaan. Umur segitu sih saya masih "sibuk" bermain dengan teman-teman saya... ;-)

Dalam buku ini juga ada kisah romantisnya. Selene menyukai Marcellus, calon pewaris tahta (anak dari Oktavia). Akan tetapi Marcellus sudah dijodohkan dengan Julia anak dari Caesar Oktovianus (pernikahan antar saudara di Romawi dimaksudkan untuk menjaga kemurnian klan mereka). Selene sendiri telah dijodohkan dengan Juba, salah satu panglima kesayangan Oktovianus. Padahal Selene tidak menyukai Juba yang dianggapnya selalu memandang sinis dan kasar pada Selene.  Lagipula sebagai orang terdekat Oktovianus, tentu saja Selene menaruh curiga pada Juba. Hanya saja Selene tidak tahu bahwa Juba telah jatuh hati padanya dan selalu melindunginya sejak Selene dibawa dari Mesir. Sayangnya kisah manis antara Selene dan Juba hanya mendapat porsi yang sedikit.

Ohya, di buku ini kita tidak akan menjumpai silsilah keluarga seperti di kedua buku sebelumnya. Hal ini membuat saya cukup bingung menghubungkan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain, padahal jumlah mereka cukup banyak. Sebagai gantinya, Michelle menampilkan peta kota Romawi lengkap dengan bangunan-bangunannya, yang menurut saya justru tidak perlu ada. Pilihan cover edisi terjemahan Bahasa Indonesia ini juga kurang menarik jika dibandingkan dengan cover edisi di luar sana.  Walaupun demikian, saya tidak ragu memberi  empat bintang untuk Selene :)


PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#57 Nefertari : Sang Ratu Heretik


Judul Buku : Nefertari Sang Ratu Heretik
Penulis : Michelle Moran
Halaman : 443
Penerbit : Esensi

Nefertari adalah anak dari adik perempuan Ratu Nefertiti, Mutnodjmet. Ketika Nefertiti dibunuh pleh pendeta Aten, Wazir Ay (ayahnya) menjadi seorang Firaun. Akan tetapi Firaun Ay hanya berkuasa sebentar, karena Firaun Ay dan semua keluarganya tewas terbakar. Ada yang mengatakan peristiwa tersebut adalah kecelakaan, tetapi banyak juga yang mengatakan bahwa mereka sengaja dibakar oleh pendeta-pendeta Aten. Untung bagi Mutnodjmet (dan Nefertari yang masih dalam kandungan), malam itu sedang berjalan-jalan di taman sehingga bisa lolos dari kebakaran maut. Jenderal Horemheb mengambil alih kekuasaan dengan menikahi keluarga Firaun tersisa yakni Mutnodjmet. Ketika Firaun Horemheb berkuasa, dia menghapuskan seluruh arca dan lukisan tentang keluarga Nefertiti tanpa tersisa. Dia pun mengumumkan bahwa Dinasti Nefertiti adalah kaum heretik (sesat). Sejarah Nefertiti dan keluarganya dihapuskan. Ketika Mutnodjmet melahirkan putrinya, Nefertari, dia pun wafat. Nefertari adalah satu-satunya putri dari Dinasti Nefertiti yang tersisa. Nefertari dinamakan seperti nama bibinya. Walaupun dia tetap dibesarkan di dalam lingkungan istana, akan tetapi julukan heretik tidak pernah terlepas darinya.

Firaun Horemheb tidak mempunyai keturunan, sehingga dia mengangkat Jenderal Ramses I menjadi Firaun selanjutnya. Ketika Firaun Ramses I mangkat, Mesir dipimpin oleh Firaun Seti putranya. Ramses I sendiri mempunyai dua orang putri lainnya, Henuttawy dan Woserit yang menjadi Pendeta Wanita Agung. Henuttawy adalah Pendeta Agung Isis dan Woserit adalah Pendeta Agung Hathor.

Nefertari tumbuh dan besar bersama Ramses II. Bersama dengan Asha (anak seorang Jenderal) mereka bertiga sering pergi berburu. Di antara Nefertari dan Ramses II mulai tumbuh benih-benih cinta. Akan tetapi ketika Ramses II diangkat menjadi Firaun Mesir Hulu, dia dinikahkan dengan Iset. Nefertari merasa sangat sedih, tapi dia menyadari status heretik yang disandangnya membuat rakyat Mesir tidak mempercayai dia. Apalagi Pendeta Agung Henuttawy berusaha meyakinkan Firaun Seti agar menjadikan Iset sebagai Permaisuri Utama. Langkah tersebut ditempuh oleh Pendeta Agung Henuttawy agar rakyat Mesir lebih sering berkunjung ke kuil Isis, sehingga dia lebih banyak memperoleh pundi-pundi persembahan.

Pendeta Agung Woserit, yang mengetahui kelicikan Henuttawy membawa Nefertari ke kuil hathor. Di sana dia dibimbing menjadi seorang putri bukan hanya cantik tapi juga cerdas dan pemberani.  Tidak heran jika Firaun Ramses II semakin cinta padanya, dan meminta Nefertari untuk menjadi istrinya. Dengan segala kepandaian Nefertari, akhirnya dia terpilih menjadi Permaisuri Utama.

Bulan ini, sehubungan dengan Hari Wanita Internasional yang jatuh di bulan Maret,  anggota Blogger Buku Indonesia (BBI) mengadakan acara baca bareng buku bertema perempuan. Saya memilih untuk membaca dua buku yang menceritakan tentang perempuan dari Mesir yang dengan kepandaian mereka akhirnya bisa memimpin rakyat Mesir. Kedua perempuan ini adalah Nefertiti dan Nefertari. Yang menarik dari keduanya adalah bukan hanya kecantikan mereka yang membuat mereka terpilih menjadi istri Firaun, tetapi juga kepandaian dan strategi yang mereka terapkan untuk mencapai tujuan mereka.

Dalam buku ini, tujuan utama Nefertari adalah memenangkan cinta Ramses II. Dia sadar bahwa kecantikan bukanlah satu-satunya modal utama memikat Ramses II. Dengan kemampuan berbahasa asing (dia mampu menguasai 8 bahasa asing...canggih ya), keberanian maju ke medan perang, kebijaksanaan menghadapi masalah di Balairung Sidang membuat dia menjadi kesayangan Ramses II.  Ramses II sendiri adalah Firaun yang paling terkenal di Mesir. Di masa pemerintahannya dia banyak membangun peninggalan sejarah yang masih dikenang sampai saat ini. Jika sebuah pepatah mengatakan bahwa di belakang pria yang sukses ada seorang wanita yang hebat, maka demikian juga yang terjadi pada Firaun Ramses II. Dengan adanya Nefertari sebagai partnernya dia mampu menjadi Firaun Mesir yang hebat. Kalau jaman sekarang, Nefertari mungkin bisa jadi Mentri Luar Negeri kayak Hillary Clinton ya

Terlepas dari beberapa hal yang hanya merupakan rekaan penulis dalam buku ini (sehingga buku ini dikategorikan sebagai fiksi), saya sangat menyukai cerita Nefertari ini. Penulisnya mampu menghadirkan kisah sejarah menjadi sebuah cerita yang mengalir dan mampu dicerna oleh masyarakat awam. Saya memberikan empat bintang untuk Nefertari.


PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#56 The Wind In The Willows


Judul Buku : The Wind In The Willows 
Penulis : Kenneth Graham
Halaman : 134
Penerbit : Mahda Books

The Wind In The Willows menceritakan tentang persahabatan yang terjalin antara empat hewan, yaitu Moly si Tikus Air, Ratty si Tikus Tanah, Tuan Luak dan Toady si Katak. Keempatnya memiliki karakter yang berbeda-beda. Moly selalu dipenuhi rasa ingin tahu, Ratty senang bertualang di sungai dekat rumahnya,  Toady selalu ceroboh dan tidak sabaran, sementara Tuan Luak pendiam namun bijaksana.

Cerita ini diawali dengan kisah Moly yang meninggalkan rumahnya yang kecil dan gelap di suatu musim semi yang indah. Di atas permukaan, dia bertemu dengan Ratty yang kemudian mengajaknya bertualang menggunakan perahu. Ratty mengenalkan kehidupan di tepi sungai kepada Moly. Ada begitu banyak hal yang baru diketahui oleh Moly. Moly yang dulunya merasa rumahnya di dalam tanah terasa menyenangkan, ternyata menjumpai pengalaman yang lebih menyenangkan sejak berkenalan dengan Ratty. Sejak saat itu, Moly pun tinggal di rumah Ratty.

Di musim panas, Moly ingin sekali bertemu dengan si Katak. Ratty pun mengantarkan Moly ke Puri Katak, tempat tinggal Toady si Katak. Sesampainya di sana, ternyata Toady ingin mencoba bertualang menggunakan kereta gipsi miliknya, dan mengajak Moly dan Ratty untuk ikut serta. Ratty menyetujui permintaan Toady hanya supaya Toady tidak sendirian. Menurutnya Toady sangat berbahaya jika ditinggalkan sendirian. Lagipula, perjalanan bersama Toady biasanya tidak akan berlangsung lama. Benar saja, ketika dalam perjalanan mereka bertemu dengan tut-tut si mobil balap. Perhatian Toady langsung beralih ke mobil balap tersebut, dan hal tersebut membuat kereta gipsi mereka mengalami kecelakaan.

Sifat Moly yang selalu ingin tahu juga membuatnya ingin sekali menjumpai Tuan Luak. Moly pun mengajak Ratty, tapi kali Ratty menolak.  Pada suatu musim dingin, Moly nekat menuju ke Hutan Rimba untuk menjumpai Tuan Luak. Ternyata Hutan Rimba memang menakutkan. Ada banyak suara-suara aneh. Moly sangat ketakutan. Untungnya Ratty segera datang menjemputnya. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja mereka menemukan rumah Tuan Luak yang sudah tertutup salju. Beruntung bagi mereka, Tuan Luak menerima mereka dan menjamu mereka di rumahnya yang besar dan hangat.

Ketika Moly dan Ratty berjalan kembali ke rumah mereka, tanpa sengaja Moly mengenali kembali rumah yang pernah ditinggalkannya dulu. Moly ingin berhenti, tapi Ratty ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya. Satu pelajaran moral yang saya peroleh lewat Moly adalah bahwa kemanapun kita pergi, rumah kita akan menjadi tempat kita kembali pulang. Dan pulang ke rumah sendiri itu, walaupun rumah kita kecil dan sederhana, rasanya sangat menyenangkan.
Aku tahu… rumahku kecil dan suram.. tidak seperti… tempatmu yang nyaman … atau Puri Katak yang indah…atau rumah Luak yang besar…tapi itu rumahku sendiri. (Moly – hal 51)


Namun sungguh melegakan dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya (Hal 57)

Petualangan Molly dan Ratty terus berlanjut. Suatu waktu mereka harus mencari Portly anak berang-berang yang hilang. Dalam perjalanan mereka mencari Portly, mereka mendengar ada suara seperti nyanyian surgawi. Ternyata suara itu berasal dari Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil yang digambarkan sebagai sosok yang kokoh, besar, memiliki tanduk melengkung, dan senyuman yang indah. Mereka terpana melihat sosok itu, tapi bukan dengan rasa ketakutan melainkan rasa kedamaian. Mungkin begitulah rasanya jika kita “bertemu” dengan Pelindung kita. Tidak ada rasa takut, hanya damai. Dan seringkali, Pelindung itu bisa dijumpai dalam hening dan diam.

Berbeda dengan Moly dan Ratty yang menjumpai sosok Pelindung, Toady justru masuk penjara akibat ulahnya mencuri Tut-tut mobil balap. Walaupun sudah dibantu oleh anak sipir penjara untuk lolos, perjalanannya pulang ke rumah sering menjumpai hambatan. Bahkan ketika sampai di rumahnya ternyata dia harus menjumpai kenyataan bahwa rumahnya sudah ditempati oleh para Rase dan Cerpelai. Syukurlah Tuan Luak, Moly dan Ratty mau membantu Toady merebut rumahnya kembali.

The Wind in The Willows sebenarnya adalah cerita fabel untuk anak-anak, akan tetapi kisahnya tidaklah sederhana. Saya sendiri mengalami kesulitan dalam mencerna ceritanya yang menurut saya tidak mengalir. Buku ini sendiri dikategorikan dalam kategori “klasik fantasy”. Wah… untuk membaca buku fantasy saja saya harus mengerahkan pikiran, apalagi cerita klasik. Ketika saya membaca cerita ini untuk kedua kalinya barulah saya mulai memahami kisah empat sahabat ini. Untungnya buku tidak tebal, hurufnya enak dibaca, ilustrasinya indah. Saya juga suka dengan syair-syair yang ada di dalamnya. Rima-nya benar-benar pas. Buku ini juga tampak elit dengan hardcover dan pita pembatas buku. Sangat layak untuk dikoleksi. Tiga bintang untuk The Wind in The Willows.


#55 Pintu Waktu (Ulysses Moore #1)


Judul Buku : Pintu Waktu (Ulysses Moore #1)
Penulis :  Pierdomenico Baccalario
Halaman : 222
Penerbit : Erlangga For Kids

Jason dan Julia mempunyai pandangan yang berbeda tentang Argo Manor, rumah besar dan antik yang baru saja dibeli oleh kedua orang tua mereka dan sekarang menjadi kediaman mereka. Jason melihatnya sebagai tempat yang menyenangkan karena jiwa petualangan yang ada di dalam dirinya, sedangkan Julia melihatnya sebagai bangunan tua yang membosankan. Walaupun Jason dan Julia adalah anak kembar, keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Julia jelas lebih "modern" dibanding Jason yang pendiam.

Argo Manor sendiri adalah rumah milik Ulysses Moore, yang terletak di atas tebing. Hingga Ulysses meninggal dunia, tidak ada satupun penduduk kota Kilmore Cove yang pernah melihatnya, kecuali penjaga rumah itu tentunya. Dari luar rumah tersebut terlihat megah, sementara di dalamnya terdiri atas banyak ruangan dan benda antik yang umumnya berasal dari Mesir.

Jason mempunyai seorang teman bernama Rick yang dikenalnya di sekolah. Rick sendiri sangat penasaran dengan Argo Manor. Ketika Jason mengundangnya untuk datang menginap di Argo Manor tentu Rick tidak akan menolaknya. Bersama Jason dan Julia, mereka bertiga menjelajahi rumah besar itu. Rick sendiri juga seorang petualang seperti Jason.

Suatu ketika, Jason menemukan sebuah kertas berisikan simbol-simbol seperti tulisan kuno dari Mesir. Mereka kemudian memutuskan untuk menjelajahi setiap ruangan di dalam rumah tersebut demi menemukan jawaban dari misteri yang ditinggalkan oleh Ulysses Moore. Kode demi kode berhasil dipecahkan oleh trio petualang ini. Hingga akhirnya mereka menemukan harta terpendam yang ditinggalkan oleh Ulysses Moore. Sayangnya yang memburu harta tersebut bukan hanya mereka bertiga. Ada seorang perempuan yang juga mengincar harta tersebut.

Buku anak-anak ini saya temukan di antara tumpukan buku di Perpustakaan Daerah. Gambar-gambar ilustrasinya sangat menarik, apalagi buku ini bersampul hardcover. Walaupun buku ini ditujukan untuk anak-anak, saya benar-benar merasakan ketegangan di saat membaca petualangan Jason, Julia dan Rick. Ketegangannya ternyata tidak berhenti di akhir buku saja, karena cerita Ulysses Moore ini ternyata berupa serial sebanyak empat buku. Waduuuh... harus segera mencari kelanjutan ceritanya kalau begini


#54 Sweet Misfortune


Judul Buku : Sweet Misfortune
Penulis : Kevin Alan Milne
Halaman : 456
Penerbit : Qanita

Sophie selalu merasa bahwa dalam hidupnya tidak ada kebahagiaan. Itulah nasibnya. Pendapatnya itu diawali saat dia mengalami kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya dan neneknya. Sophie yang saat itu sedang berulang tahun, meminta sebuah coklat pada ayahnya yang sedang menyetir di tengah hujan deras. Malang bagi mereka, kecelakaan yang tak terhindarkan membuat Sophie sepanjang hidupnyadihantui perasaan bahwa dialah yang membuat kecelakaan itu terjadi.  Dan perasaan itu makin menjadi-jadi ketika Garrett tunangannya meninggalkan dirinya, setelah semua kepercayaan Sophie berikan pada Garrett.

Sophie kemudian menuangkan kesedihan dan ketidak bahagiaannya dalam usaha yang dia miliki. Sophie mengelola sebuah toko cokelat. Selain coklat aneka rasa, dia juga menjual sebuah produk yang tanpa dia duga sangat laris. Namanya Kue kemalangan. Kue ini seperti kue keberuntungan dimana ada secarik kertas berupa ramalan keberuntungan tersimpan di dalamnya. Namun di dalam kue kemalangan Sophie, yang ada adalah ramalan ketidak beruntungan. Selain itu kue kemalangan ini terbungkus oleh coklat yang pahit, seakan menegaskan ketidak beruntungan itu sendiri.

Setahun berlalu, dan Sophie terus hidup dalam kesedihannya. Tanpa disangka, di hari ulang tahunnya yang ke-29 Garrett kembali datang memohon cintanya. Sophie yang sakit hati tidak bisa semudah itu menyerahkan kepercayaan dirinya pada Garrett. Tapi Garrett memohon satu kesempatan saja agar dia bisa menjelaskan mengapa dia meninggalkan Sophie setahun yang lalu. Sophie kemudian membuat persyaratan yang cukup sulit. Dia meminta Garrett memasang iklan di sebuah surat kabar lokal. Jika ada seratus surat yang berisi kebahagiaan yang diinginkan oleh Sophie, maka Garrett berhak mendapatkan satu kesempatan itu. Jadi beginilah iklan itu :
Dicari : Kebahagiaan
Tolong bantu aku mencari sesuatu yang hilang dari hidupku. Kirim saran ke PO Box 3297, Tacoma, WA 98402 (Kumohon hanya kebahagiaan yang bertahan lama. Bukan yang hanya bertahan sementara)

Iklan itu ternyata mendapatkan banyak tanggapan. Tapi bukan itu saja. Berawal dari sebuah iklan, Sophie dan Garrett mengetahui beberapa hal dari masa lalu mereka. Bagaimana mereka bisa saling terkoneksi satu sama lain, dan juga sekaligus menjawab apakah kebahagiaan sejati itu ada. Dan bukan hanya Sophie yang (ternyata) berkepentingan dengan iklan tersebut. Evelynn, saudara angkatnya, juga menemukan jawaban dari masa lalunya berkat iklan sederhana itu.

Awalnya saat membaca beberapa halaman pertama buku ini, saya menduga akan menemukan kebosanan pada tokoh yang tidak bisa melepaskan diri dari masa lalunya. Tapi ketika saya melanjutkan bacaannya saya menemukan diri saya berkali-kali menghapus air mata. Selain dialog segar dan kisah romantis yang tidak cengeng, saya menyukai kutipan-kutipan di setiap awal bab di buku ini.  Setelah saya perhatikan, ternyata kutipan itu adalah isi ramalan dalam kue kemalangan milik Sophie. Sebenarnya bukan ramalan ketidak beruntungan, tapi lebih ke kenyataan kehidupan yang bisa kita jumpai sehari-hari. Hanya saja kalimatnya terasa lucu oleh saya.

Kau akan segera jatuh cinta. Perhatian : saat seseorang jatuh, biasanya ada sesuatu yang patah.


Jangan terhanyut oleh seseorang yang romantis setengah mati. Romansanya akan berakhir dan yang tertinggal hanyalah setengah mati.

Di buku cetakan pertama yang saya baca ini, ada beberapa halaman (bahkan bab) yang terulang. Ada yang bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Seandainya halaman yang salah itu tidak ada, mungkin bukunya sedikit lebih tipis :) Saya juga lebih suka dengan cover aslinya yang memperlihatkan bentuk kue kemalangan milik Sophie.

Ohya, dalam buku ini ada ratusan orang yang mengirimkan surat balasan atas iklan itu. Kamu juga mau mengirimkan alasan kebahagiaan-mu? Penulisnya (Kevin A. Milne) melampirkan alamat emailnya (happiness@kevinamilne.com) jika kamu mau berbagi kebahagiaanmu :). Mungkin ada juga yang bertanya (sebenarnya saya yang bertanya-tanya sejak melihat nama penulisnya), apakah Kevin A. Milne ada hubungannya dengan A.A. Milne penulis Winnie The Pooh? Well... here the answer from his website "My mother, the genealogist, swears we are related to good old uncle A.A. Milne (pronounced Miln), but exactly how or where we connect on the family tree I can't say for sure." 

Lima bintang untuk Sweet Misfortune. Dan saya segera memasukkan buku-buku Kevin A. Milne lainnya dalam wishlist :)


#53 Dimsum Terakhir


Judul Buku : Dimsum Terakhir
Penulis : Clara Ng
Halaman : 368
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Saya sudah lama naksir dengan novel ini. Apalagi ada kata "dimsum" di judulnya dan endorsement-nya yang mengatakan bahwa novel ini membeberkan persoalan-persoalan seputar kaum keturunan Tionghoa. Entah kenapa, saya selalu tertarik dengan cerita tentang kehidupan kaum Tionghoa di Indonesia. Hingga akhirnya kesampaian juga saya membca novel ini, dan saya sangat tidak menyesal :)

Novel ini bercerita tentang empat orang anak kembar, semuanya anak perempuan. Nung dan Anas memberikan nama Cina layaknya orang Cina yang tinggal di Indonesia kepada anak-anaknya.  Tan Mei Xia (Siska), Tan Mei Yi (Indah), Tan Mei Xi (Rosi), dan Tan Mei Mei (Novera). Walaupun kembar, kepribadian mereka tidak ada yang sama. Siska adalah seorang yang berpendirian kuat, mandiri, nyaris tidak mempertimbangkan perasaan dalam mengambil keputusan. Indah orangnya paling serius di antara mereka berempat, semua hal harus dipikirkan olehnya. Rosi yang tomboy, jagoan, tidak pernah tampil layaknya seorang perempuan. Novera si bungsu yang paling kecil perawakannya, lembut, dan perasa.

Masing-masing mereka telah hidup sukses, dengan jalan pilihan karier masing-masing. Siska yang paling mapan di antara lainnya tinggal di Singapura, Indah sebagai penulis dan wartawan di Jakarta, Rosi petani bunga di Puncak, dan Novera guru TK di Jogja. Ketika papa mereka, Nung, jatuh sakit, keempatnya harus kembali ke sisi papanya. Membawa persoalan masing-masing yang harus dihadapi, dan menguak tabir kehidupan yang selalu disembunyikan.

Menjadi seorang anak keturunan Cina membuat keempat gadis ini selalu hidup sebagai kaum marginal. Ternyata yang membuat mereka menjadi kaum marginal bukan hanya status keturunan saja. Ketika Nung mengucapkan permintaan terakhirnya, terungkaplah rahasia-rahasia dari keempat gadis ini. Nung "hanya" meminta keempat anak gadisnya menikah sebelum dia meninggal dunia.

Siska, yang sudah memantapkan hati tidak mau menikah karena tidak percaya pada lembaga pernikahan, tidak bisa menerima begitu saja permintaan terakhir papanya. Indah, yang hamil di luar nikah juga tidak bisa menikahi ayah bayinya karena pria itu adalah seorang pastor. Rosi merasa terjebak dalam tubuh perempuan padahal dirinya sebenarnya adalah laki-laki dan mencintai perempuan lainnya. Novera, yang rahimnya diangkat karena kista ganas merasa tidak percaya diri ada seorang pria yang mau menikahinya.

Alur cerita dalam novel ini sebenarnya berjalan lambat, diselingi dengan flashback memori dari masing-masing tokoh di dalamnya. Saya merasa penulis sengaja melakukan hal itu demi ketegasan karakter dari masing-masing tokoh. Budaya dan ritual masyarakat Tionghoa juga menjadi latar belakang yang indah dalam buku ini. Termasuk dengan pemilihan judul "dimsum", dimana keluarga Nung memiliki ritual memakan dimsum bersama di hari pertama Imlek. Hanya ada satu yang mengganjal di benak saya saat menyelesaikan buku ini. Seperti ada beberapa lompatan waktu yang terkesan dipaksakan di bab-bab terakhir. Meskipun demikian, kepiawaian Clara Ng membuat twist yang manis tidak membuat kita kehilangan arah saat membacanya.

Novel ini dirilis kembali pada tahun 2012 setelah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 2006. Covernya juga berganti. Tapi saya masih suka dengan cover lama, dengan warna merah dan karakter huruf yang benar benar terasa Cina-nya. Apalagi dengan gambar kaki empat orang perempuan yang menunjukkan perbedaan karakter. Tapi saya suka dengan tagline  pada cover baru :

A novel about being single and becoming part of a family... when everything is going totally wrong.


#52 Besar Itu Indah


Judul Buku : Besar Itu Indah (Does My Bum Look Big In This?)
Penulis : Arabella Weir
Halaman : 272
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Jacqueline M. Pane menulis di buku hariannya pertama kali pada tanggal 3 Januari. Tentu saja buku ini bukan buku harian pertamanya. Dia mengawali tulisan di buku hariannya dengan menceritakan ukuran pakaiannya. Jackie memiliki tubuh berukuran 14 – 16, dan dia sangat tidak nyaman dengan ukuran tubuhnya. Berkali-kali dalam buku hariannya Well… sebenarnya hampir tiap hari dimana dia menulis di buku hariannya) dia menyinggung soal “big size”-nya itu. Dia bahkan sering memikirkan apa yang akan dikatakan orang mengenai dia.

Selain ukuran tubuhnya, Jackie  tentu saja menceritakan tentang tempat kerjanya. Dalam urusan karier, Jackie sebenarnya mendapatkan posisi lumayan sebagai Koordinator Senior Konferensi. Tapi (lagi-lagi) Jackie menganggap dia mendapatkan jabatan itu gara-gara dia sudah berumur, dan rekan kerja lainnya masih muda. Di kantor, Jackie mnyukai seorang pria bernama Andy. Andy sendiri juga menyukai Jackie, tapi Jackie tidak pernah menanggapi perhatian Andy padanya. Dalam pikirannya Andy hanya memanfaatkan dia untuk mendekati si Ceking Clare. Tidak mungkin Andy akan menyukai wanita dengan dada dan bokong besar. Ohya, bukan hanya Andy yang suka padanya. Salah satu klien mereka dari Italia, Carlo Pozzi juga menunjukkan ketertarikan padanya.

Membaca buku harian Jackie cukup melelahkan menurut saya. Setiap halaman ada saja keluhan Jackie soal tubuhnya. Pikiran-pikiran negatif Jackie bertaburan dalam buku ini, dan sepertinya energi negatif itu yang membuat saya merasa bosan membaca buku ini. Bahkan ketika Jackie diminta menuliskan kelebihannya dalam satu sesi terapi, dia malah menuliskan kalimat berikut :
“barangkali aku akan merasa lebih baik jika membuat daftar kekuranganku, itu lebih gampang ketimbang mencari-cari kelebihanku” (hal 129)
 Ketika saya membaca judulnya, saya berpikir bahwa buku ini akan bercerita tentang seorang berukuran besar yang mampu “survive” dalam lingkungan yang mengatakan langsing itu indah. Saya sendiri juga memiliki pinggul yang secara genetis berukuran besar. Tidak jarang saya mendapat “joke” tentang ukuran pinggul saya, dan tentu saja beberapa kali sempat masuk ke dalam hati. Makanya saya tertarik untuk membaca buku ini dan berharap akan mendapatkan sesuatu yang membesarkan hati saya dari buku ini.

Tentu saja ada yang menarik dari buku ini, yaitu ketika Jackie mendapat kesempatan untuk diwawancarai oleh sebuah majalah lifestyle yang akan mengangkat topik wanita bertubuh besar yang sukses dalam kariernya. Artikel tersebut mengatakan bahwa bertubuh besar tentu bukan menjadi batu sandungan untuk maju dalam karier, sehingga wanita tidak perlu malu jika memiliki tubuh berukuran besar. Bahkan salah satu narasumber selain Jackie yang diwawancarai adalah Geraldine, manajer toko pakaian mengatakan:
 “ Aku tahu aku tidak langsing, tapi aku tidak menganggapnya sebagai masalah” (hal 252).
 Di luar jalan cerita yang datar, saya tidak menjumpai typo dalam buku ini. Satu lagi poin positif yang membuat saya bertahan membacanya. Jadi dua bintang saya rasa cukup untuk chicklit satu ini.


#51 Nefertiti : Sang Ratu Keabadian


Judul Buku : Nefertiti (Sang Ratu Keabadian)
Penulis : Michelle Moran
Halaman : 581
Penerbit : Esensi

Buku ini mengisahkan tentang kerajaan Mesir pada Dinasti ke-18 (tahun 1351 SM), yang diawali dengan kematian Pangeran Mesir, Tuthmosis. Kematiannya ini menyebabkan adiknya Amenhotep menjadi pewaris tahta Mesir selanjutnya. Sebuah rumor beredar bahwa kematian Tuthmosis itu karena dibunuh oleh adiknya sendiri, yang sangat berambisi menaiki tahta Mesir.

Sebagaimana seorang Raja yang harus didampingi oleh Ratu, maka Amenhotep harus memiliki seorang Ratu. Sebenarnya Amenhotep telah mempunyai istri bernama Kiya, putri dari wazir (penasehat kerajaan) Panhesi. Tetapi Ibunda Ratu Tiye menghendaki seorang gadis lain, yang diharapkan bisa meredam ambisi Amenhotep. Dipilihlah Nefertiti, putri dari wazir Ay, yang tidak lain adalah keponakan Ibunda Ratu. Nefertiti sendiri telah mengetahui dan menetapkan dirinya akan menjadi Ratu Mesir, jauh sebelum diminta oleh Ibunda Ratu. Kecantikan Nefertiti dianggap setara dengan dewi Isis (dewi kecantikan dan sihir).

Nefertiti sendiri selalu didampingi oleh adik tirinya, Mutnodjmet yang ahli dalam obat-obatan herbal. Intrik demi intrik dilakukan oleh Nefertiti dan ayahnya untuk mendapatkan perhatian penuh dari Amenhotep. Amenhotep sendiri bahkan membuat satu kota akibat pengaruh dari Nefertiti. Harapan Ibunda Ratu Tiye bahwa Nefertiti akan meredam ambisi Amenhotep musnah. Amenhotep kemudian mengumumkan dewa Aten menggantikan dewa Amun sebagai dewa tertinggi di Mesir. Semua pendeta Amun disingkirkan, kuil Amun berganti dengan kuil Aten.

Nefertiti sendiri terus berambisi untuk menjadi penguasa Mesir. Ketika dia melahirkan enam orang putri tanpa satupun putra (sementara Kiya justru melahirkan seorang putra), Nefertiti menobatkan dirinya menjadi Firaun agar kekuasaan tidak jatuh di tangan putra Kiya.

Kisah fiksi sejarah ini ditulis dari sudut pandang Mutnodjmet. Walaupun difokuskan untuk menceritakan Nefertiti, kita juga bisa mendapatkan kisah hidup Mutnodjmet sendiri. Bagaimana dia jatuh cinta pada seorang Jenderal, dan dianggap sebagai ancaman oleh Amenhotep dan Nefertiti. Satu hal yang menarik ketika saya membaca buku ini adalah usia para tokoh ketika memegang tampuk pemerintahan masih sangat muda.Nefertiti sendiri berusia 15 tahun ketika dia dinikahkan dan dilantik menjadi Ratu Mesir. Anaknya, Meritaten, baru berumur tujuh tahun ketika harus mendampingi Ibunya memerintah Mesir.

Hal menarik lainnya adalah kemampuan Mutnodjmet dalam mengolah tumbuh-tumbuhan menjadi obat. Tidak jarang beberapa tumbuhan disebutkan beserta fungsinya, misalnya tumbuhan akasia untuk menggugurkan kandungan, mandrake dan madu untuk kesuburan, daun rue untuk mencegah wabah, dan masih banyak tumbuhan lainnya.



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#50 Daddy Long Legs


Judul Buku : Daddy Long Legs
Penulis : Jean Webster
Halaman : 235
Penerbit : Penerbit Atria


Dear, Mr. Daddy...

Hai.... Mungkin Anda tidak mengenal saya, tapi saya mengenal Anda. Well... setidaknya Judy yang mengenalkan saya pada Anda. Anda tahu kan, dia menulis surat kepada Anda hampir setiap bulan. Bahkan terkadang dalam sebulan dia bisa menulis surat berkali-kali. Saya tidak tahu kalau Judy senang bercerita (lewat tulisan tentunya dan sepertinya hanya pada Anda). Seringkali ketika saya mengajaknya untuk ngobrol bersama di malam hari, dia memilih untuk menyingkir, dan ketika saya mengintipnya, dia sudah larut dalam surat-suratnya.

Judy memang senang membaca (Anda sudah tahu itu), dia juga senang sekali ketika diajak pergi ke peternakan. Mungkin karena dia berasal dari panti asuhan (maafkan kata-kata saya), dimana dia harus bekerja sepanjang waktu. Dia benar-benar gadis beruntung karena Anda membiayai studinya.

Daddy... (boleh kan saya memanggilmu begitu?),

Anda sangat sombong tidak membalas satu pun surat Judy. Saya seperti membaca monolog saja. Hampir saja saya kobosanan membaca surat-surat Judy itu. Tapi Anda sangat manis mengirmkan bunga untuk Judy ketika dia sakit atau mengirimkan uang padanya ketika Natal tiba. Tapi saya sangat penasaran siapakah Anda sebenarnya?

Sudahlah, Daddy... Saya tidak tahu mau menuliskan apa lagi. Saya kan tidak seperti Judy yang bisa menulis surat berlemba-lembar. Sekarang Judy sudah benar-benar menjadi penulis. Dia bahkan mendapatkan uang dari tulisannya. Tulisannya kabarnya sangat menarik. Ah... Judy memang berbakat.

Sincerely,

Desty-yang-ikut-membaca-surat-Judy

PS. Saya dengar Anda mau menemui Judy. Bisakah saya ikut bertemu dengan Anda?


#49 A Waltz at Midnight


Book Title: A Waltz at Midnight
Writer: Crista McHugh
Page(s): 55
Publisher: Carina Press

This is a second eBook which I’ve got from NetGalley. It was a short romantic novel, another kind of Cinderella Story that take place at 1866 in New York.

Susanna Parkwell and her brother Hank Parkwell are come from the South. Unfortunately, Hank loses his leg in Civil War. They have to live in a boarding house and work there for a place to stay. Both Susanna and Hank don’t like to live in that situation, but the circumstances make them have to. Susanna has to serve some rich girls which study at Vassar College.

One of these girls, Charlotte, receives a letter from a man named Theodore Barkley. The letter explains about an arrangement made by their parents that set them in to a business marriage. Charlotte asks for Susanna to write back the rejection letter, since she doesn’t want to marry Theodore. Susanna writes the letter behalf for Charlotte. Instead of feeling abandoned, Theodore is more curious for Charlotte and sends her many letters. He even sends Charlotte some sketch that made by him. Off course, it’s not Charlotte who reply all Teddy’s letters but Susanna. By their letters, they start to fall in live each others. Until one day, Teddy plans to meet Charlotte. Susanna gets upset about his plan, but Charlotte forced her to continue to play act. How will Susanna get out of this one without getting heartbroken?

There was some section where Susanna being a maid, and the clock struck 12 times to separate them deeply felt like Cinderella story. But I love to read all the letters imagine me being in Susanna side. Not only because of the choice words used by Theodore and Susanna, but also their thoughts about the impact of war, freedom, rights of women, and off course love.

Too bad the story is very short. I hope the character development of several villains like Annabelle, a rich girl who is always oppressive Susanna, or even from Hank and Charlotte. And although this is a romance story, you barely find a sexual scene but kiss :)

Well, I give three out of five stars to Susanna and Theodore.


#48 Pengakuan Gadis Call Center


Judul Buku : Pengakuan Gadis Call Center
Penulis : Lisa Lim
Halaman : 462
Penerbit : Gradien Mediatama


Dulu, setelah saya menyandang gelar sarjana, yang ada di pikiran saya adalah mencari kerja secepatnya. Tentu saja saya mengirimkan beberapa lamaran ke perusahaan yang sesuai dengan background ilmu yang saya miliki. Enam bulan lamanya, penolakan demi penolakan saya terima. Saya bahkan melebarkan opsi ke perusahaan yang tidak sesuai dengan ilmu saya. Alasannya tidak lain adalah saya harus bekerja.

Madison Lee (Maddy) juga sama galaunya ketika menerima penolakan demi penolakan. Ketika Karsynn sahabatnya mengajaknya untuk melamar ke sebuah perusahaan telekomunikasi, Maddy pun menyambutnya. Setelah melalui serangkaian tes, akhirnya mereka diterima bekerja sebagai operator telepon di call center.

Jangan menganggap pekerjaan sebagai operator di call center itu gampang. Maddy mengalami hari-hari yang sulit ketika dia bekerja sebagai gadis call center. Mulai dari makian pelanggan yang tidak sabaran, bahasa asing yang belum pernah didengar, sampai rayuan dari pelanggan yang tidak senonoh. Belum lagi atasannya yang sekejam Hittler, dan keharusan menjual produk pada pelanggan. Kegalauan Maddy bertambah ketika Karsynn sahabatnya jatuh cinta pada pria beristri, dan Mika, pria impian hatinya, malah jatuh cinta pada gadis lain. Untungnya ada Truong, rekan Maddy di kubikel sebelah yang selalu menghibur dengan tingkah dan komentarnya yang lucu. Truong yang homo dan cadel itu juga selalu membawakan makanan Asia untuk Maddy.

Maddy ternyata berasal dari keluarga berada. Ayahnya (almarhum) adalah seorang peneliti dan ibunya adalah dokter spesialis kandungan. Walaupun demikian, Maddy tidak dekat dengan ibunya yang sibuk bekerja. Maddy juga penikmat buku. Beberapa buku yang Maddy baca dan tertulis di dalam novel ini spontan mengingatkan saya pada Mbak Fanda (yang juga adalah penyunting novel ini). Bagaimana tidak, bacaan Maddy itu buku-buku klasik dan historical story. Persis seperti mbak Fanda :D

Alur ceritanya cenderung datar. Saya tidak merasakan klimaks dan anti-klimaks dari kisah si gadis call center ini. Beberapa bab “hanya” menceritakan tentang kejadian seputar telepon-telepon yang diterimanya. Baru di bab akhir kisah antara Maddy dan Mika mendapat porsi lebih banyak. Masih banyak typo-nya juga. Tapi saya suka sekali dengan gambar sampulnya. Warna biru cerah dan gadis manis memakai headset jauh lebih menarik dibandingkan cover aslinya.  After all, saya kasih tiga bintang untuk Maddy, si gadis call center.


#47 Twivortiare


Judul Buku : Twivortiare
Penulis : Ika Natassa
Halaman : 283
Penerbit : Self Publishing by Nulisbuku


Alexandra is back. Melalui account twitter @alexandrarheaw, Alex menceritakan pernikahan keduanya dengan dr. Beno Wicaksono. Seperti yang sudah diceritakan di novel prekuelnya, Divortiare, Alex dan Beno pernah menikah. Tapi, karena kesibukan masing-masing (Beno sebagai dokter jantung dan Alex sebagai karyawati sebuah bank) membuat komunikasi di antara mereka tidak berjalan dengan baik. Ketika Alex meminta cerai, Beno dengan tanpa usaha mengiyakan permintaan Alex (hal yang kemdian meyakinkan Alex bahwa Beno tidak benar-benar mencintainya). Singkat cerita, di akhir kisah Divortiare, Alex dan Beno sama-sama merasakan masih ada cinta di antara mereka. Apakah mereka kembali menjadi pasangan?

Pertanyaan itu terjawab di Twivortiare. Alex dan Beno menikah untuk kedua kalinya, setelah 8 bulan berpacaran. Kali ini, Alex membuat Beno berjanji supaya tidak melepaskannya apapun permintaan Alex nantinya. Alex juga meminta perhatian penuh dari Beno, dan tidak menjadikannya sebagai hal kedua setelah pekerjaannya.

Walaupun diceritakan dari sudut pandang Alex (apalagi hanya lewat rangkaian tweets yang maksimal cuma 140 karakter tiap paragraf), saya bisa menikmati kelanjutan kisah Alex dan Beno. Dan dalam pernikahan kali ini, tetap saja Alex dan Beno “rajin” bertengkar. Mengapa saya bilang rajin? Soalnya pertengkaran mereka di dalam buku Twivortiare ini ga jauh-jauh dari masalah cemburu, kurang perhatian,dan miskomunikasi. Beno cemburu dengan Adrian, nasabah Alex; Alex cemburu pada  Rania, kolega Beno sesama dokter. Alex masih merasa Beno kurang perhatian, dan Beno menganggap Alex sulit dimengerti. Ketika Beno meminta Alex untuk “wajib lapor”, Alex merasa seperti terpenjara.

Mengutip apa yang dikatakan Alex lewat twitternya (saya lupa persisnya kalimatnya seperti apa) bahwa pernikahan kedua ini membuat mereka sangat berhati-hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan sebelumnya. Mereka berusaha untuk terus berkomunikasi, baik itu lewat telepon, BBM, maupun Skype ketika mereka harus berjauhan. Tindakan berhati-hati itu membuat Alex dan Beno selalu membuat kesepakatan yang mengharuskan yang satu menuruti yang lain supaya mereka tetap berdamai. Dan terus menerus berada dalam situasi win-lose solution itu tentu saja melelahkan. Tidak heran, ketika mereka menemukan jalan buntu berkomunikasi, Alex memilih untuk menghindar, sementara Beno merasa Alex bersifat kekanak-kanakan.

Satu hal lagi yang menjadi “masalah” dalam rumah tangga mereka adalah ketidak hadiran seorang anak. Selain jengah ditanya terus menerus oleh keluarga besar mereka, satu sama lain merasa dalam ketakutan akan mengecewakan pasangan mereka karena Alex tidak kunjung hamil.

Terlepas dari segala konfilk yang dialami oleh Alex dan Beno, saya sangat salut Ika Natassa mampu menghidupkan kembali karakter Alex lewat @alexandrarheaw. Dan bukan hanya Alex, kehadiran orang-orang di sekitar mereka juga tetap hidup walaupun semua hanya bisa dilihat lewat sudut pandang Alex. Satu-satunya karakter yang hadir adalah @winasoedarjo, sahabat Alex yang selalu menjadi tempat curhat Alex. Dialognya masih banyak berbahasa Inggris khas Ika, dan sedikit istilah perbankan. Typo masih ada, tapi wajarlah karena self publishing. Mungkin nanti kalau diterbitkan oleh Gramedia, typo-nya bisa berkurang.

Mengenai sampulnya, yang sudah pernah membaca Divortiare pasti familiar dengan kardus bertuliskan His dan Hers. Kali ini ditambah dengan si burung biru-nya twitter. Saat membaca halaman awal dari novel ini saya sempat berpikir, mereka kan sudah tinggal bersama, tapi kenapa kardusnya masih terpisah seperti di Divortiare. Ternyata setelah saya selesai membaca novel ini saya menarik kesimpulan sendiri soal kardus itu. Biarpun mereka sudah tinggal seaatap, tapi tetap saja masih ada dua kepentingan dan kepribadian yang belum sepenuhnya terbuka satu sama lain. Baik Alex dan Beno masih mengkotak-kotakkan diri mereka dalam pernikahan ini. Well, benar atau tidaknya kesimpulan saya, silahkan ditanyakan ke penulisnya di account twitternya @ikanatassa :)

Btw, karena penasaran dengan kelanjutan kisah Alex dan Beno, saya jadi mem-follow @alexandrarheaw.  Si dokter kadang nge-tweet juga pake akunnya Alex, untuk menjawab pertanyaan dari fansnya. Tapi ya gitu deh… jawabannya hanya satu dua kata saja.