~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#549 Pengantin Pesanan


Judul Buku : Pengantin Pesanan
Penulis : Mya Ye
Halaman : 336
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sinta (Li Su Cin) atau biasa dipanggil A Cin sedang mempertimbangkan tawaran ibunya, Bong Pai Yin, yang memintanya untuk menikah kembali. Bagaimanapun juga keluarga mereka yang tidak kaya mengandalkan Sinta sebagai tulang punggung. Ditambah dengan Angelina, anaknya dari suami pertamanya, dan Aloy adiknya, kehidupan mereka sungguh pas-pasan. Sebenarnya Sinta masih menyimpan trauma karena perpisahan dengan suaminya akibat KDRT. Padahal dahulu mereka menikah karena saling cinta. Sayangnya, kelahiran Angelina mematikan api cinta suaminya. Memiliki anak perempuan bukanlah harapan suaminya.

Meskipun tinggal di Jakarta, Sinta dan keluarganya berasal dari Singkawang. Ada semacam tradisi yag terjadi di Singkawang yaitu Pengantin Pesanan. Seorang calo atau agen akan mencari perempuan dari Singkawang untuk menjadi istri bagi pria dari Taiwan. Sebenarnya perempuan Indonesia bukan satu-satunya "incaran" pria Taiwan. Perempuan dari Vietnam atau Cina daratan juga sering menjadi target. Hanya saja keunggulan perempuan dari Singkawang adalah keuletan, rajin, dan tidak suka, sehingga amoy Singkawang lebih disukai. Keluarga perempuan akan menerima "uang susu" sebagai nilai tukar. Proses perkenalan sangat singkat, hanya hitungan hari atau minggu. Si perempuan akan mendapatkan foto pria Taiwan yang akan dinikahinya dari agen. Jika beruntung, pria itu akan datang ke Indonesia untuk menikah langsung. Jika tidak, menikahi selembar foto sudah cukup. 

Bagi pria Taiwan, mencari calon istri dari luar negeri adalah hal yang lumrah. Hal ini terjadi
karena persoalan demografis, dimana jumlah pria di atas usia 15 tahun jauh lebih banyak daripada jumlah perempuannya. Jika pria ini memiliki ekonomi mapan, tentunya tidak sulit mencari calon pengantin perempuan. Tapi bagi mereka yang hidupnya tergolong ekonomi menengah ke bawah akan kesulitan mendapatkan perempuan lokal. Karena itu mereka mencari perempuan di negara lain. Tentunya yang masih memiliki latar belakang budaya yang sama. Alasan ini juga yang mendorong Lu Kai Wei mencari calon istri seorang amoy  Singkawang. 

Sinta setuju menikah dengan Lu Kai Wei, pria asal Taiwan. Setelah menikah, dia langsung ikut suaminya ke Taiwan. Angelina ditinggalkannya bersama ibunya. Meskipun sedih, Sinta tahu kelangsungan hidup keluarganya ada di tangannya. Tiga bulan pertama biasanya menjadi "masa percobaan" bagi pengantin pesanan. Semua penghasilan suami akan ditahan oleh ibu mertua. Paspor dan surat berharga ditahan untuk jaga-jaga agar menantu perempuan ini tidak melarikan diri. Hal ini semata-mata untuk melihat kesungguhan untuk menjadi istri. Sinta cukup beruntung Kai Wei sangat menghormatinya. Meski kaku, Kai Wei selalu memperlakukan Sinta dengan baik. Sinta diminta membantu Lao Ma (ibu mertuanya) untuk bekerja di warung ban tiao milik keluarga Lu. Tidak butuh waktu lama, Sinta dipercayakan untuk menjaga warung itu sendirian. 

Di tangan Sinta warung ban tiao milik keluarga Lu cukup laris. Sinta bisa menyisihkan sedikit uang yang diberikan suaminya untuk dikirimkan kepada keluarganya. Namun kendala muncul ketika Sinta hamil. Tenaganya terkuras habis untuk menjaga warung, sementara di rumah sikap Lao Ma yang keras tidak memperbolehkannya untuk banyak beristirahat. Di sisi lain, Sinta merasa tertekan dengan harapan keluarga suaminya agar nantinya dia melahirkan anak laki-laki. Siapalah dirinya yang bisa menentukan jenis kelamin bayinya?

Ada dua issue utama yang diangkat dalam novel ini. Yang pertama adalah tentang perdagangan perempuan di balik modus pengantin pesanan. Meski sekarang model pernikahan semacam ini sudah jauh berkurang, tapi masih ada saja yang melakukannya. Tidak semua perempuan seberuntung Sinta yang mendapatkan suami yang mau menghargainya. Beberapa perempuan harus pasrah menerima takdir keluarga baru yang belum dikenalnya sama sekali. Belum lagi gegar budaya yang tentu jelas berbeda. Menikah dengan pria asing tidak lantas mengubah status ekonomi, karena terkadang pria yang dinikahi juga bukan berasal dari keluarga kaya. 

Issue kedua adalah kesetaraan gender. Bukan menjadi rahasia bahwa dalam budaya Tiongkok, keberadaan anak laki-laki jauh lebih bernilai daripada anak perempuan. Sinta mengalami hal itu. Sebagai anak perempuan dia selalu diminta bekerja keras, sementara adiknya Aloy sangat dimanja. Akibatnya Aloy tumbuh menjadi sosok pria yang kurang memiliki rasa tanggung jawab. Kebiasaannya berjudi membuat keuangan keluarga semakin sulit, dan Sinta yang harus berusaha mengatasinya. Bukan hanya itu, keluarganya sendiri berantakan karena dia melahirkan anak perempuan. Sekarang, keluarga barunya juga menuntut hal yang sama. Sinta seringkali berharap dia terlahir sebagai anak laki-laki.

Kedua issue tersebut sering diangkat berulang sepanjang novel ini, yang (mungkin) menjadi kelemahan dalam novel ini. Bisa jadi penulis ingin menekankan dua poin penting dari hasil risetnya, tapi bagi saya perulangan itu sedikit mengganggu. Tapi saya menyukai cara penulis menyelesaikan konflik yang dialami Sinta. Cukup adil dan realistis.

Saya sangat penasaran dengan tradisi Pengantin Pesanan ini, sehingga saya mencoba mencari literatur tentang itu. Ada beberapa berita dan jurnal ilmiah yang saya temukan,namun belum semuanya saya baca. Pengantin Pesanan rasanya seperti dua sisi mata uang. Ada untung dan ruginya. Yang pasti, novel ini menjadi sumber ilmu baru bagi saya.


Be First to Post Comment !
Post a Comment