~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#633 Damar Kambang


Chebbhing masih berusia 14 tahun saat acara pernikahannya digelar. Sebelum dirias, Chebbhing diminta menyalakan damar kambang, sebuah pelita yang sumbunya mengambang di atas minyak. Pelita ini memiliki makna yang dalam untuk mengawali rumah tangga. Sayangnya, damar kambang Chebbhing berkali-kali mati. Mungkin itu sebuah pertanda ketidaklancaran acara pernikahannya. Ayahnya menolak pengantin laki-laki yang datang hanya membawa hantaran bantal dan tikar.

Kacong, si pengantin pria merasa terhina. Bukannya dirinya dan keluarganya tak sanggup membawa sebuah rumah sebagai hantaran, hanya saja adat istiadat kampung mereka berbeda. Calon mertuanya bahkan tak mau berunding. Sakrah, paman Kacong, segera bertindak. Dia mencari orang pintar untuk membalaskan dendam itu. Di rumahnya, Chebbhing merasa dirinya bagaikan barang yang ditelantarkan. Pernikahannya batal sebelum dia menginjak tempat resepsi, orang tuanya diam dan pergi mengurusi hal lain. Sayup-sayup Chebbhing mendengar suara memanggil namanya. Dia lantas melarikan diri dari rumah dan pergi menemui Kacong. Kacong menerimanya, membuatnya tinggal di rumah orangtuanya, dan menikmati apa yang seharusnya mereka lakukan jika saja pernikahan itu tidak dibatalkan.

Tapi ayah Chebbhing datang menjemput anaknya dengan paksa. Dia diseret pulang. Berkali-kali Chebbhing melarikan diri, sampai akhirnya dia dipasung dan dirantai. Ayahnya tidak tinggal diam, dia mencari dukun yang mampu menyembuhkan anaknya. Sampai ketika, Ke Bulla, seorang kiai terpandang memberikan pengobatan. Chebbhing akan dinikahkan secara siri sebagai istri ketiga sang Kiai jujungan keluarganya. Tapi pernikahan ini harus dirahasiakan dari khalayak umum. Jangan sampai istri pertama dan kedua Kiai mendengarnya.

Mengulas tradisi pernikahan di Madura, membuat saya tertarik untuk membaca novel ini. Chebbhing , salah satu tokoh dalam novel ini dinikahkan dalam usia belia. Sebagai anak gadis, Chebbhing layak mendapatkan mahar yang mahal. Minimal sebuah rumah untuk tempat Chebbhing dan suaminya tinggal nantinya. Saya setuju dengan sebagian filosofi rumah sebagai hantaran, seperti penjelasan Ibunya Chebbhing . Rumah sebagai simbol kesetiaan, keamanan, bentuk didikan agar lelaki belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab sebelum menikah. Ini memang logis dan masuk di akal. Tetapi mengibaratkan seorang anak perempuan sebagai burung yang harus disediakan sangkarnya, agar dia memperoleh batasan-batasan kebebasan, sekligus menjadi hak milik seorang tuan, saya kurang sependapat. Tetapi di kampung Chebbhing , jika hanya bermodalkan bantal dan tikar, akan menjadi cibiran tetangga. Tidak mungkin anak gadis dijual murah kepada calon keluarga suaminya.

Cinta ditolak dukun bertindak. Dunia mistis masih kental dalam novel ini. Kayaknya semua masalah harus diselesaikan dengan bantuan dukun. Sebenarnya bukan hanya kisah Chebbhing dalam novel ini. Masih ada setidaknya dua perempuan lain dengan masalah pernikahan mereka masing-masing, tapi masih terhubung dengan Chebbhing . Yang satu adalah Ibunya Kacong, dan satu lagi adalah istri kedua Kiai. Masalahnya, kisah ketiga perempuan ini masing-masing menggunakan POV orang pertama, tapi tidak ada pembeda antara kisah mereka. Baik itu sekadar huruf atau gaya bahasanya. Jadinya kadang saya bingung, perempuan yang mana bercerita kali ini. Lalu ada lagi muncul "satu orang" bernarasi- ditandai dengan huruf dicetak miring -yang seakan-akan dialah yang menceritakan keseluruhan kisah dalam Damar Kambang ini.

Saya kurang puas dengan akhir kisah dalam novel ini. Rasanya masih banyak persoalan yang belum dibereskan, dan masih banyak pertanyaan belum terjawab. Meski pada akhirnya damar kamang milik Chebbhing menyala dengan sempurna di rumahnya.

Damar Kambang
Masyari Muna
208 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
Desember, 2020


 

#632 Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam



Tidak biasanya Magi Diela pulang malam. Pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian honorer memang mewajibkannya mengunjungi kelompok tani, bahkan yang jauh dari rumahnya. Tapi hari itu berbeda. Magi ditangkap oleh Leba Ali. Dia mengalami yappa mawine, sebuah kondisi yang disebut juga sebagai kawin tangkap di Sumba. Magi Diela diculik, ditangkap, untuk dikawini. 

Kawin tangkap adalah satu budaya di Sumba dimana anak perempuan dapat ditangkap oleh pihak laki-laki yang akan meminangnya untuk mempersingkat urusan adat agar tidak memakan waktu yang lama menuju perkawinan. Namun, umumnya kedua pihak keluarga telah memiliki kesepakatan untuk menempuh cara ini. Ada pula yang menyebutkan bahwa hal itu dapat dilakukan jika pihak laki-laki gagal mencapai kesepakatan. Dilihat dari sudut pandang Hak Asasi Manusia, budaya ini tentu saja merugikan pihak perempuan. 

Magi Diela yang diculik oleh Leba Ali, pria paruh baya yang memang telah mengincarnya sejak Magi masih SD. Leba Ali memberikan sejumlah hewan sebagai belis kepada keluarga Magi. Ama Bobo, ayah Magi, mau tak mau menerima perkawinan ini karena tidak ingin dianggap melanggar adat. Apalagi Magi telah ditahan di rumah Leba Ali selama dua hari. Tentunya Magi sudah tidak perawan lagi. Laki-laki mana yang mau menikahi anak perempuan yang sudah tidak perawan. 

Magi memang telah dinodai oleh Leba Ali dalam keadaan tidak sadar setelah dirinya diculik. Magi merasa harga dirinya runtuh. Dia tidak ingin menikah dengan Leba Ali. Dia memilih lebih baik mati apalagi karena keluarganya sendiri, terutama Ama Bobo, ayah yang dihormatinya lebih mementingkan adat budaya daripada anak perempuannya. Magi menggigiti pergelangan tangannya untuk memutuskan pembuluh nadi. Sayangnya, upaya Magi mengakali maut dapat dihindari. Dirinya berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Dangu Tida, sahabat Magi melaporkan tindakan penculikan dan pemerkosaan yang dilakukan Leba Ali kepada kepolisian. Meski demikian, Leba Ali yang awalnya ditangkap oleh polisi, bisa melenggang bebas karena koneksinya yang kuat dengan bupati setempat. Parahnya lagi, perkawinan Magi dengan Leba Ali tetap akan dilangsungkan, karena tikar adat telah digelar. Satu-satunya cara menghindari pernkawinan itu adalah dengan melarikan diri. Ditolong oleh Dangu dan Tara, iparnya, Magi melarikan diri meninggalkan kampungnya. Dia ditolong oleh kelompok LSM Gema Perempuan yang menampungnya dalam pelarian sampai kondisi aman. Magi merasa dirinya terusir dari tanah kelahirannya, harga yang sangat mahal dibayarnya untuk kebebasan. 

Di halaman sampul novel ini ada tulisan "trigger warning". Meski saya sudah mencoba menyiapkan diri dengan apa yang akan saya baca, tetapi membaca kisah Magi Diela tetap saja terasa terlalu kejam. Saya sampai mimpi buruk setelah membaca separuh dari novel ini. Di halaman terakhir saya juga memberikan apresiasi kepada Magi. Dia perempuan yang berani. Memilih jalan gelap dan sunyi menentang adat demi kehormatannya sebagai manusia.  

Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam adalah novel kedua yang saya baca dengan tema perkawinan adat. Sebelumnya ada Pengantin Pesanan di Singkawang yang mengulas tentang budaya perkawinan yang merugikan pihak perempuan. Novel ini memang fiksi, tapi praktik budaya kawin tangkap masih terjadi di Sumba, NTT. Sebuah artikel di Magdalene mengulas tentang fenomena adat ini. Ternyata ada pergeseran dari adat-istiadat sesungguhnya dalam kawin tangkap ini. Budaya patrarki yang menganggap wajar saja apabila laki-laki mengedepankan ego, dominasi dan kekerasan membuat pelaku merasa memiliki kebebasan untuk melakukan pemaksaan dan intimidasi, bahkan kekerasan seksual kepada perempuan yang ditangkapnya. Inilah yang dilakukan oleh Leba Ali, karakter dalam novel ini yang bersembunyi di balik budaya untuk melegalkan perbuatan bejatnya. Kabar terakhir yang saya baca, pejabat pemerintah daerah Pulau Sumba sudah menyepakati untuk menolak praktik kawin tangkap demi melindungi hak perempuan dan anak. Semoga tidak ada lagi Magi di dunia nyata yang terpaksa harus meberikan tangisnya kepada bulan hitam. 


Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Dian Purnomo
320 halaman
Gramedia Pustaka Utama
November, 2020




 

#631 Medium Rare Mom



Saran : sebelum membaca novel ini ada baiknya membaca A Man Who Loves You terlebih dahulu. Soalnya kalau di buku AMWLY, Ella bercerita kisah lajangnya, maka di MRM ini dia meceritakan kehidupan pernikahannya. Pas dengan genre novelnya. AMWLY itu City-lite, MRM itu Le-Marriage.

Ella menikah dengan Ardo, satu-satunya pria yang dicintainya. Setelah menikah, Ardo masih memberikan kebebasan bagi Ella untuk mengejar karirnya. Hingga kemudian, Ella hamil dan melahirkan Allea a.k.a Kunyit. Karena Ella masih bekerja, mereka memutuskan menggunakan jasa pengasuh. Nah kerempongan bersama pengasuh menjadi salah satu topik dalam novel ini. Mulai dari pengasuh yang merasa disantet, sampai pengasuh yang kabur begitu saja setelah masa garansi habis.

Berhubung masalah dengan pengasuh tidak kunjung selesai, akhirnya Ella memutuskan berhenti bekerja. Lagi-lagi Ardo mendukung keinginan istri tercintanya itu. Sekarang Ella memasuki masa-masa post power syndrome, dimana dia hampir (atau mungkin sudah) merasa depresi dengan peran barunya ini. Daripada tidak menghasilkan uang sama sekali, Ella mencoba membuka usaha garmen yang juga disetujui langsung oleh Ardo. Sampai ketika ternyata rekanan Ella menipunya, di saat Ella mendapati dirinya hamil anak kedua, keresahan Ella semakin menjadi. Yang membuatnya meledak dan menjadikan Ardo sebagai sasaran, karena dirinya merasa seorang diri tanpa ada orang yang ditempatinya berbagi. Ardo yang memproklamirkan dirinya sebagai best friend judtru di mata Ella ga ada bagus-bagusnya. Ujungnya mereka bertengkar, dan Ardo pergi dari rumah.

Membaca kisah Ella di MRM menurut saya sedikit berbeda dengan kisah Ella di AMWLY. Kalau di masa lajangnya, Ella seperti batu karang yang tahan terhadap ombak dan angin keras, di sini Ella kelihatannya seperti yang kehilangan dirinya. Beradaptasi dari wanita karir yang berpenghasilan menjadi ibu rumah tangga tanpa kerjaan membuatnya bingung. Di lain sisi, Ardo bukannya tidak memahami Ella. Tapi ya...namanya juga wanita, kadang nggak sadar kalau pria normal bukanlah makhluk yang bisa membaca pikiran. Dukungan tanpa syarat yang diberikan Ardo dibaca sebagai ketidakpedulian oleh Ella. 

Ada satu bagian dalam novel ini yang saya suka, yaitu pesan dari Mini, asisten rumah tangga Ella. "Gelas Ibu penuh... atuh kosongin dlu kalau mau diisi lagi". Kalimat ini juga yang menyadarkan Ella untuk mengosongkan dirinya. Dan dia baru merasa kosong setelah mencurahkannya kepada Tuhan. Setelah itu, Ella baru bisa berpikir kembali dengan jernih.

Menutup halaman terakhir novel ini, saya lantas berpikir apakah ini semi-biografi atau kisah nyata ya? Hehe... Jarang-jarang isi novel itu menceritakan proses kreatif atau latar belakang dari keberadaan novel itu sendiri. Terima kasih juga untuk kak Mel Bakara atas kiriman bukunya. Saya ngasih bintang 5 bukan karena dapat bukunya gratis dari penulisnya. Tapi karena saya memang mengambil banyak pelajaran dari Ella dan semestanya ini. Ditunggu karya selanjutnya ya, kak Mel...


Medium Rare Mom
Mel Bakara
312 halaman
Elex Media Komputindo
Desember, 2021


 

#630 Berilah Judul Untuk Kisahmu


Hari ini Samson Ansari seharusnya menikah. Jika saja Mala, calon istrinya tidak kabur dengan membawa seluruh harta miliknya, Sam sudah duduk di pelaminan. Mikhael, Ardo dan Ella yang tadinya datang untuk menghadiri pernikahan Om kesayangan mereka, akhirnya malah menjadi tim penjemput untuk memboyong Om Sam ke Jakarta. Bandri, kakak Sam, yang memerintahkan anak-anaknya itu untuk membawa kabur Sam. Setidaknya dia tidak perlu berhadapan dengan semua tamu.

Di Jakarta, Sam tinggal di apartemen Mikhael dan Ella. Ardo mengusulkan untuk mencari jejak Mala. Sam menolak, tapi Ardo berkeras. Itu perintah Papanya, jadi tidak ada alasan untuk menolak. Sam akhirnya mengalah dengan syarat tidak akan mau melihat wajah Mala lagi.

Meski sudah lama akrab dengan para keponakan yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, Sam baru melihat dengan matanya sendiri bagaimana kehidupan Mikhael dan adik-adiknya di Jakarta. Termasuk juga soal percintaan mereka. Kalau Ardo dan Ella, Sam sudah tidak meragu lagi. Tapi terhadap anak bujangnya yang satu ini, sepertinya Sam perlu memberikan petuahnya. Hanya saja, apakah Mikhael mau mendengar dari orang yang gagal dalam berhubungan macam dirinya. Dia tahu, ada Sachi, gadis yang dijumpainya di sebuah mal. Sepertinya ada sesuatu yang belum selesai antara Mikhael dan Sachi.

Sachi pertama kali bertemu dengan Mikhael di kost yang mereka tempati saat masih kuliah. Kala itu, Sachi yang tinggal di kost wilayah putri kehabisan uang. Kiriman Papanya belum sampai. Bahkan untuk membeli bakwan seharga lima ratus perak pun dia tak punya. Sachi bermaksud ke kampus mencari orang yang dikenalnya untuk meminjam uang. Hujan deras menyurutkan langkahnya, dan dia terduduk diam di teras kost. Saat itu, Mikhael menghampirinya, mengajaknya makan malam bersama. Meski dengan hanya acar kuning masakan Mikhael, itulah makan malam terlezat yang dirasakan Sachi. Long story short, keduanya menjadi lebih dekat. Mikhael bahkan mengakuinya sebagai pacar enam bulan. Hanya saja, Sachi dengan segala persoalan yang ditinggalkan oleh Papanya, tidak ingin menyeret Mikhael ke hidupnya yang suram.

Novel ini bisa dibilang sekuel dari A Man Who Loves You. Meski bisa dibaca terpisah, jauh lebih baik jika dibaca setelah membaca AMWLY itu. Setidaknya, bisa tahu tentang hubungan antara Mikhael, Ardo, Ella dan Sam lebih jauh. Kalau di AMWLY yang bercerita adalah Ella (atau Bella), maka novel ini dikisahkan dari sudut pandang Sam dan Sachi. Alurnya maju mundur, tapi tidak akan membuat bingung. Baik cerita Sam maupun Sachi menggunakan Mikhael sebagai tokoh sentral mereka.

Kehidupan Sam dan Sachi hampir serupa. Keduanya memiliki perasaan sebagai layang-layang putus yang ditemukan oleh seseorang, namun kemudian malah menderita oleh orang tersebut. Kalau membaca kisah Sam bisa membuat tertawa, membaca jalan hidup Sachi malah membuat air mata mengalir. Keduanya saling melengkapi menjelaskan bagaimana sosok Mikhael mengambil porsi dalam hidup mereka. Satu hal yang masih terasa kental ada suasana kekeluargaan dalam keluarga mereka. Seperti kata Sam, keluarga mereka telah terbiasa menyelesaikan masalah secara tuntas, mungkin terlihat aneh dan edan di pandangan orang lain, tapi itulah yang melekatkan mereka satu sama lain. Di dalam buku ini, Bandri dan Marita (kedua orang tua Mikhael dan Ella) lebih diperlihatkan sisi penyayangnya. Bahkan Bandri yang sering berlaku tegas dan keras terlihat lebih lunak.

Kondisi keluarga yang demikianlah yang membawa Mikhael tumbuh menjadi sosok penyayang. Dia tidak ingin melukai orang lain. Hanya saja, dia kurang tegas dalam berkata-kata. Sementara Sachi yang sedari kecil selalu mengalah dan diabaikan, butuh penegasan dan kejelasan. Konflik ini menjauhkan Mikhael dan Sachi selama 10 tahun lamanya.

Setelah jatuh hati dengan gaya menulis Mel Bakara pada AMWLY, saya langsung mencari karya beliau lainnya. Novel ini saya temukan di Google Playbook. Ternyata ada versi novela yang melengkapi AMWLY dan BJuK ini, yang pernah dirilis di Wattpadd, tapi sekarang sudah di-unpublished karena telah diterbitkan dalam bentuk cetak sebagai bonus saat PO kedua buku ini. Saya segera membeli Flowers of Love (novela pelengkap AMWLY yang syukurlah dicetak ulang dan dijual tersendiri), tapi tidak menemukan The Untold Stories BJuK yang katanya tidak dijual lagi secara terpisah. Sampai suatu ketika, kak Mel mengirimkan DM gara-gara review singkat AMWLY yang saya posting sebagai IG-story. Setelah berbalas chat, kak Mel berbaik hati mengirimkan kepada saya novela The Untold Stories BJuK (Love you, kak Mel).

Berikutnya ada Medium Rare Mom masih seputaran kisah Ella dan Ardo. Will read them soon karena belum rela berpisah dengan rombongan keluarga Ansari ini.

 

Berilah Judul Untuk Kisahmu
Mel Bakara
398 halaman
Book Ease Publishing
Juni, 2021





#629 A Man Who Loves You

 

Inilah kisah hidup Bella, yang dituliskannya untuk Kunyit, anaknya. Bella mengawalinya dengan mengisahkan hidupnya sebagai seorang karyawan di perusahaan yang bergerak di bidang pendanaan. Bella bekerja di bidang IT, sesuai ilmu yang dipilihnya sejak kuliah. Namun karena kecerdikannya, dia dipindahkan ke bagian riset. Bella bukan orang pintar, tapi dia mau belajar. Dengan niat memperbaiki nasib karirnya, Bella menjalani pekerjaan barunya.

Kisah hidup Bella terpotong dan terlempar ke masa lalu, pasca pertengkarannya dengan Abang Mikha, kakak satu-satunya. Bella mengisahkan hidupnya yang sejak kecil sudah bekerja keras membantu bisnis orang tuanya. Papanya guru yang membuka usaha kopi, Mamanya mengandalkan keahlian memasak untuk menambah penghasilan rumah tangga. Bella pun berkenalan dengan Ardo, cucu Oma yang tinggal di sebelah rumah. Ardo yang memanjakan Bella, membuat Bella selalu menjadi merasa istimewa sekaligus merasa kecil. Tumbuh bersama sampai selepas SMA, Bella tahu Ardo menyukainya, seperti halnya dirinya juga menyukai Ardo. Namun mereka berpisah tanpa kepastian.

Tujuh tahun lamanya Bella menantikan Ardo. Bella melanjutkan kuliahnya di Jogja, sementara Ardo entah ada di mana. Selepas kuliah, Bella merantau ke Jakarta. Sebenarnya ada Deo, pria yang pertama kali dijumpainya di sebuah warnet, saat Bella bingung bagaimana cara membuat email. Selama 7 tahun itu, Deo yang dianggap sahabat oleh Bella, beberapa kali mencoba mendekati Bella.

Saya baru pertama kali membaca karya Mel Bakara, dan saya suka dengan cara penulisannya. Saking sukanya, saya membacanya perlahan, meresapi kalimat demi kalimat untuk memahami kehidupa Bella yang keras dan sulit. Menjadi seorang anak perempuan yang hidup dalam budaya patriarki, membuatnya mau tak mau selalu menjadi objek perbandingan dengan kakaknya. Papanya menuntut Bella bisa kuat, tangguh dan jujur. Rasa cinta dan sayang pantang keluar dari mulut sang Jenderal (begitu Bella menjuluki Papanya). Papa bahkan lebih terlihat menyayangi Ardo ketimbang dirinya.

Di tempat kerja, karir Bella tidak mulus. Banyak ujian yang membuatnya capek, tapi tidak menyerah. Mungkin itu yang membuat Devon, atasannya, mulai menyukainya. Kisah cinta Bella lebih tak mulus lagi. Bertahun-tahun tanpa kepastian membuatnya akhirnya mencoba melihat realitas. Saat hatinya memantapkan untuk berkomitmen dengan Deo, Ardo tiba-tiba muncul begitu saja. Bella harus memilih antara cinta dan komitmen.

Selain Bella, Ardo dan Deo, ada juga kisah-kisah kecil yang juga mempermanis isi novel ini. Kisah bang Mikha, juga kisah Raska dan Ike. Semuanya teramu dengan baik. Humornya pas, kisah cintanya juga ga berlebihan. Saya paling suka dengan suasana kekeluargaan yang dibangun oleh para tokokh. Kelihatan kedewasaannya. Mengenai pesan moralnya, seperti pesan penulis kepada Kunyit, silakan dipungut remah-remahnya di sepanjang halaman novel ini.  Saya jadi ingin mencoba membaca karya lain dari penulis satu ini, yang sepertinya side story dari buku ini. Dan pastinya beliau masuk dalam daftar "auto read- author" (akan saya baca karyanya setiap ada yang terbit.

A Man Who Loves You
Mel Bakara
426 halaman
Elex Media Komputindo
Januari, 2021




#628 Words in Deep Blue

 



Mengawali tahun 2022, BBI Joglosemar membuat tantangan membaca dengan tema babat timbunan. Maklumlah, sebagian besar penghuni BBI Joglosemar memang anggota Ordo Timbunan. Timbunan buku yang dimaksud bukan hanya secara fisik (printed) tapi juga versi digital (ebook). Saya memutuskan membaca buku ini yang pernah saya beli versi digitalnya di Google Playbook di tahun 2020 lalu. Dan ternyata buku ini membuat saya mencari lebih banyak buku untuk ditimbun dibaca.

Rachel kehilangan adiknya, Cal, yang tenggelam saat berenang di laut. Laut yang pernah sangat dicintai oleh Rachel ternyata merengut kebahagiaannya. Rachel yang dulunya siswa dengan prestasi sains cemerlang, kini tidka sanggup menyelesaikan kelas 12. Bukan hanya Rachel, ibunya juga mengalami depresi. Rachel memutuskan untuk pindah kota, kembali ke Gracetown meski dia menyadari akan menemui kesulitan yang lain di sana. 

Tiga tahun yang lalu Rachel pernah tinggal di Gracetown, sebelum dia dan adiknya mengikuti Ibunya pindah ke kota lain. Sesaat sebelum pindah, Rachel menuliskan surat pernyataan cinta-nya untuk Henry, sahabatnya, dan diselipkan di sebuah buku kesukaan Henry. Sepertinya Henry tidak membaca surat itu, karena kabar yang diketahui oleh Rachel adalah Henry berpacaran dengan Amy. Lambat laun, korespondensi antara Rachel dan Henry terputus sejak Rachel memutuskan tidak lagi membalas surat-surat dari Henry. 

Henry tinggal di sebuah toko buku bekas milik kedua orang tuanya yang bernama Howling Books. Sepanjang hidupnya dipenuhi oleh buku-buku. Dia bahkan memiliki tempat tersendiri di sebuah sudut toko buku itu untuk menghabiskan waktu bersama Amy. Ketika Amy memutuskan hubungan mereka, Henry berusaha mempertahankannya. Dia bertanya-tanya apa yang menjadi penyebab keretakan hubungan mereka. Di saat bersamaan, dia mendapat kabar dari Ibunya bahwa toko buku itu akan dijual. Rachel yang sedang mencari pekerjaan di Gracetown, kemudian dipekerjakan oleh Ibunya untuk mendata buku-buku yang ada di sana. 

Pertemuan kembali antara Rachel dan Henry membuka kisah di antara mereka. Rachel yang masih terkungkung dalam depresi pasca kehilangan adiknya, sekali lagi berhadapan dengan Henry yang patah hati ditinggalkan Amy. Masing-masing mereka membuat batasan yang mendefenisikan diri mereka saat ini. Rachel menganggap kata-kata tidak berarti, sementara Henry melihat dirinya dalam eksistensi hubungannya bersama Amy. Hanya lewat buku-buku di Perpustakaan Surat, yang akhirnya bisa menjembatani keduanya dan melihat realita. 

Saya suka dengan konsep Perpustakaan Surat, dimana buku-buku di dalamnya menjadi media orang-orang saling berhubungan. Ada yang menuliskan catatan-catatan di pinggiran buku, atau sekadar menandai bagian kalimat yang berarti bagi mereka. Ada juga yang menyelipkan surat di antara halaman buku, seperti yang dilakukan oleh Rachel dan Henry, juga George (adik Henry) dengan seorang pria pengagumnya.
 
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ada banyak buku yang disebutkan di dalam buku ini disertai sedikit gambaran mengenai buku tersebut. Buku di dalam buku, tepatnya. Saya yang penasaran dengan puisi The Love Song of J. Alfred Prufrock oleh T.S. Elliot langsung mencari puisi itu, karena sepenggal kalimat yang disukai oleh Rachel.

Do I dare..
Disturb the universe?
In a minute there is time
For decisions and revisions which a minute will reverse.

Words In Deep Blue
Cath Crowley
358 halaman
Noura Books
Mei, 2018