~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#555 Perempuan Bersampur Merah


Kasus santet di Banyuwangi pada tahun 1998 tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelam bangsa ini. Dalam kurun waktu Februari hingga September 1998, terjadi pembunuhan terhadap orang yang diduga melakukan ilmu hitam atau santet. Salah satu yang menjadi sasaran adalah Suku Using yang menjadi penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Banyuwangi. 

Kejadian inilah yang menjadi latar belakang dalam novel Perempuan Bersampur Merah. Adalah Ayu atau Sari yang mencari informasi tentang orang-orang yang membunuh bapaknya. Bapaknya Ayu sebenarnya seorang dukun suwuk (penyembuh). Entah kabar darimana yang berhembus hingga akhirnya ada ninja dan beberapa warga yang kemudian menjadikan Bapaknya Ayu menjadi salah satu korban. 

Ayu yang di kemudian hari berganti nama menjadi Sari, mengingat dengan jelas peristiwa pembunuhan ayahnya. Dia bahkan menuliskan beberapa nama yang dikenalnya di selembar kertas. Ayu mengajak Ahmad dan Rama, sahabatnya, untuk menyelediki orang-orang tersebut. Namun kemudian Rama mengundurkan diri dengan alasan ingin fokus pada ujian sekolah. Belakangan Ayu dan Ahmad tahu kalau Rama dimarahin ayahnya bergaul dengan Ayu. 

Penelusuran Sari membawanya bertemu dengan Mak Rebyak.  Supaya bisa mengorek informasi, dia menjadi murid tari Mak Rebyak. Di sana dia berkenalan dengan Mbak Nena yang kemudian memberikan sampur berwarna merah untuknya. Sari sadar, kemampuan ekonomi ibunya hanya bisa menyekolahkannya sampai SMA. Mungkin menari bisa menjadi pilihan hidup selanjutnya.

Kentalnya budaya Banyuwangi dalam novel ini menjadi nilai tambah, selain konflik pembunuhan dukun santet di tahun 1998. Novel ini sendiri disajikan dengan alur campuran, dimana setiap bab-nya diberikan keterangan tahun kejadian. Dan tahun ini juga melompat-lompat tidak beraturan. Pembaca harus jeli mengikuti urutan kejadian. 

Sebenarnya ada banyak ruang yang terasa tidak terbahas tuntas. Misalnya tentang pengalaman menari Sari. Tidak diceritakan dengan jelas nasib Sari sebagai penari setelah menerima sampur merah yang dianggap punya "isi" itu. Sekilas hanya digambarkan Sari mengikuti beberapa lomba menari dan mengisi pentas seni di beberapa acara. Padahal sempur merah menjadi judul novel ini. Di sampulnya (yang didesain dengan bagus oleh @Sukutangan) juga menggambarkan seorang perempuan dalam belitan sampur, yang membuat saya berpikir ada yang istimewa dengan kisah sampur merah ini.

Novel ini juga dilengkapi dengan romansa antara Sari-Ahmad-Rama. Sari menyimpan rasa sukanya pada Rama, tapi Sari tahu orangtua Rama tidak menyukainya. Sementara Ahmad juga sebenarnya menyukai Sari. Namun jangan berharap ada romansa yang menggebu-gebu atau penuh intrik. Harus saya bilang bagian romansanya terasa datar hingga akhir.

Novel ini adalah karya perdana dari Andaru Intan yang saya baca, namun sebenarnya sudah ada beberapa novel yang dituliskan oleh Intan sebelumnya, misalnya 33 Senja di Halmahera yang juga mengangkat tema budaya. Boleh dicoba deh kapan-kapan.

Perempuan Bersampur Merah
Andaru Intan
216 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Januari 2019



#554 American Panda



Hidup Mei sudah direncanakan dengan baik oleh kedua orang tuanya. Pada usia 17 tahun, dia sudah lulus SMA dan mengambil pra-kedokteran di MIT. Mei akan menempuh pendidikan sebaik-baiknya, menjadi dokter dan menikah dengan seorang pemuda asal Taiwan dan memiliki anak. Intinya, Mei adalah harapan besar keluarganya.

Tentu saja, Mei tidak bisa menolak. Setelah kakaknya, Xing mengecewakan keluarga dan diusir oleh ayahnya, Mei adalah tumpuan harapan. Masalahnya Mei fobia dengan kuman, tidak menyukai pelajaran Biologi, memilih menari sebagai pelariannya, dan jatuh cinta pada seorang pemuda Jepang. Semua itu dirahasiakannya dari ayah dan ibunya.

Membaca kisah Mei yang hidup di bawah tekanan orang tuanya mengingatkan saya pada buku non fiksi Battle Hymn of the Tiger Mother karya Amy Chua. Seperti Amy Chua, keluarga Mei juga berasal dari China daratan dan bermigrasi ke Amerika untuk hidup yang lebih baik. MIT (Massachusset Institute of Technology) menjadi kiblat pendidikan, dan nilai B+ tidak masuk dalam hitungan. Mei harus menjadi yang terbaik. Keinginan pribadi Mei tidak penting, bahkan diabaikan. Mei harus menuruti budaya China yang mengalir dalam darahnya, meski dia besar di lingkungan Amerika. Mei hidup dalam pergumulan setiap harinya, 

Mei mungkin mewakili sebagian anak-anak yang hidup dalam impian orang tuanya. Syukurlah saya tidak seperti itu (meski sepertinya orang tua saya dulunya menanamkan dalam benak saya ilmu eksakta itu lebih bagus daripada ilmu sosial, dan keluarga besar saya menganggap dokter adalah profesi paling baik). Saat Mei mencoba mendengar kata hatinya dan menemui Xing, Mei melihat bahwa dia punya pilihan lainnya. 

Novel ini merupakan debut dari Gloria Chao, seorang penulis yang juga adalah dokter gigi lulusan dari MIT. Sebagian isi novel ini merupakan pengalaman hidup penulis. Novel ini menjadi nominasi dalam penghargaan Best Fiction for Young Adult dari Young Adult Library Service Association (YALSA). Dan, hey... mungkin bisa menjadi salah satu pilihan bacaan merayakan tahun baru Imlek. 

American Panda
Gloria Chao
360 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Januari 2019