desty baca buku

~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#535 Arya Buaya


Judul Buku : Arya Buaya
Penulis : Nimas Aksan
Halaman : 450
Penerbit : Elex Media Komputindo


Drupadi dan Arya sudah lama berteman, sejak SMA. Bisa dibilang satu-satunya wanita yang bisa dekat dengan Arya tanpa taut akan "ke-buaya-an" Arya adalah Dru. Meski kadang-kadang Dru juga menjadi sasaran gombal rayuan Arya, Dru yakin seyakin-yakinnya dia tidak akan jatuh ke dalam pesona Arya seperti gadis-gadis bodoh lainnya. 

Hingga akhirnya, Dru mengalami musibah. Ayahnya ditahan polisi atas tuduhan menggelapkan dana perusahaan. Ayah Dru memiliki usaha konstruksi bangunan. Ada satu proyek yang belum selesai, dan akhirnya menjadi masalah. Dru berusaha mencari jalan keluar agar ayahnya tidak ditahan. Tuntutan untuk Ayah Dru cukup besar, beliau harus membayar sejumlah besar kerugian. Sementara Ayah Dru sendiri sebenarnya sudah bangkrut. Dru harus merelakan BPKB mobilnya, mobil ayahnya, sertifikat rumah, dan juga BPKB mobil Mikail, pacarnya menjadi jaminan pembebasan ayahnya.

Seandainya, House of Bee, perusahaan design interior yang didirikan Dru tidak sedang mengalami krisis keuangan, mungkin Dru tidak harus berurusan lagi dengan Arya. Tapi kali ini Dru butuh kemampuan buayanya Arya untuk menaklukkan Melanie, janda pengusaha kaya yang akan membangun hotel di Ubud. Dru ingin agar proyek desain interior hotel itu jatuh ke tangannya. Supaya dia bisa melunasi hutang-hutang ayahnya sekaligus menyelamatkan perusahaannya.

Arya Buaya, julukan berima ini memang pantas diberikan pada Aryadinata. Sejak SMA hingga bekerja di sebuah televisi swasta, Arya selalu menebar pesona di mana-mana. Gadis SPG saja bisa takluk tersipu-sipu malu dalam waktu beberapa menit saat berbincang-bincang dengan Arya. Tidak usah dihitung berapa wanita yang jatuh dalam pesonanya. Ada satu peraturan "buaya" ala Arya : semua gadis layak diperlakukan istimewa, tapi tidak semua gadis boleh tahu perlakuan istimewa apa yang diberikan pada gadis lainnya. 

Meskipun Dru adalah tokoh utama yang memiliki banyak masalah, saya tidak bisa bersimpati padanya. Di mata saya, ketika membaca novel ini, Dru bisa jadi seorang wanita yang egois. Dia tahu bahwa Arya sudah mempermainkan banyak hati wanita, dan dia tidak suka akan hal itu. Tapi Dru juga memanfaatkan kebusukan Arya untuk kepentingannya sendiri. Kedekatan mereka membuat Dru melihat ada sisi kebaikan dalam diri Arya, tapi tetap saja, Arya selalu berada dalam daftar kelas rendahan di mata Dru. Yah...Arya memang juaranya buaya. Setiap melihat gadis manis, Arya langsung mengeluarkan jurus rayunya. Tapi bagaimana pun juga Arya juga manusia yang pastinya menyimpan perasaan tertentu. Di sisi lain, kemalangan bertubi-tubi yang dialami Dru membuat pembaca bisa jatuh iba padanya. Apalagi ketika Dru menceritakan masa lalunya yang berkaitan dengan Arya. 

Mikail, pacarnya Dru, adalah orang yang mendapatkan rasa iba dari saya. Dia korban ketidak tegasan Dru. Tapi Mikail cukup cerdas, dan saya kira selalu selangkah lebih maju ke depan. Momen ketika Mikail menggagalkan makan malam romantis antara Dru dan Arya dengan melamar Dru membuat saya bersorak gembira.

Saya mengapresiasi cara penulis mengisahkan sosok playboy melalui sudut pandang seorang wanita. Penulis mampu mengaduk emosi pembaca. Dan ada kejutan yang disiapkan penulis di saat pembaca merasa sudah mengetahui akhir dari kisah si Arya Buaya ini.



#534 False Beat


Judul Buku : False Beat
Penulis : Vie Asano
Halaman : 296
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Pernah nggak mendengarkan sebuah lagu yang awalnya kamu bakal bilang, "ih lagu apaan sih ini?" trus kemudian akhirnya kamu jadi suka sama lagunya dan nggak bisa hilang dari kepalamu? Perasaan saya kayak gitu waktu baca novel ini. Kenapa saya asosiasikan dengan lagu? Karena part per part dalam buku ini dibuat seperti format sebuah lagu. Ada intro, verses, chorus dan bridge.

Aya baru saja kembali dari Jepang setelah 3 tahun magang di negara itu, kemudian "ditodong" oleh pamannya untuk menjadi road manager pada tour sebuah band papan atas di Indonesia. Jika saja tidak karena berutang, Aya tidak akan menerima tawaran itu. Apalagi melihat kelakuan Keanu, vokalis band Keanu & The Squad yang membuatnya emosi. Bukan hanya sebagai sebagai road manager, Aya juga diminta menjadi personal manager-nya Keanu. Bayangkanlah betapa frustasinya Aya. Keanu bahkan berani menuduhnya mesum, hanya karena satu kejadian Aya salah membuka pintu ruang ganti yang disangkanya pintu studio. Pokoknya Keanu masuk dalam daftar cowok yang harus dimusnahkan dari muka bumi.

Kelakuan Keanu tidak menjadi lebih baik saat tour berlangsung. Berkali-kali Keanu menghilang untuk pulang ke Bandung dan tidak mengikuti seluruh rangkai agenda promosi. Tapi karena Keanu bisa dibilang "nyawanya" band ini, tidak ada anggota band yang protes. Tinggallah Aya yang haru berkali-kali meminta maaf pada pihak sponsor dan fans. Sungguh nggak profesional si Keanu ini. Tapi semua pandangan itu berubah ketika Aya mengetahui rahasia besar yang disimpan rapat-rapat oleh Keanu.

Yang membuat novel ini menarik adalah kekuatan karakternya. Saya salut dengan konsistensi penulis dalam menjaga karakter tokoh utama sehingga bisa membuat pembaca ikut aware dengan karakter tokohnya. Misalnya dengan menggunakan kata ganti "lo-gue" pada salah satu tokoh, dan "saya-kamu" untuk tokoh lainnya. Sebagai pembaca, saya dengan mudah mendeteksi siapa yang sedang berdialog. Dan tokoh-tokoh pendukung nggak sekadar numpang lewat. Masing-masing punya kontribusi pada jalan cerita.

Novel yang bercerita tentang anak band ini juga mengulas sisi kreatif dari penciptaan sebuah lagu sampai kepada persiapan sebelum manggung. Ada adegan dimana Aya memarahi Keanu sebelum naik ke panggung, dan bukannya mendapat dukungan, Aya justru dimarahin balik oleh manajer lainnya. Ternyata nggak boleh banget membuat mood personil band berantakan sebelum pentas karena akan mempengaruhi kesuksesan konser secara keseluruhan. 

Konfliknya bukan hanya seputar band saja. Tapi juga masalah keluarga yang cukup pelik. Keanu diceritakan memiliki seorang saudara kembar identik. Sayangnya hubungan mereka sudah lama tidak akur. Tidak banyak novel yang mengulas tentang saudara kembar dan interaksinya. Dan novel ini lumayan berhasil

Novel ini sukses membuat saya terjaga dari pukul sepuluh malam hingga pukul dua dini hari, karena saya tidak bisa melepaskan bukunya sampai halaman terakhir. Siap-siap saja terkejut dengan twist yang seru sampai meleleh dengan kata-kata romantis dari si anak band. Untuk sebuah debut, Vie Asano layak mendapatkan apresiasi penuh. 



#533 Aku dan Buku


Judul Buku : Aku dan Buku
Penulis :  Busyra,  Abduraafi Andrian, Maura Finessa, Truly Rudiono, Teddy W. Kusuma, Nurina Widiani, Pauline Destinugrainy Kasi, Alvina Ayuningtyas , Selviya Hanna.
Halaman : 100
Penerbit : bukuKatta

Pada pertengahan September 2016, saya mendapatkan email dari Steven Sitongan, seorang pembaca dan penggiat buku dari Ambon. Saya mengenal Steven lewat Blogger Buku Indonesia (BBI), dan ternyata kami berasal dari almamater yang sama, Biologi UGM. Steven mengajak saya untuk berkolaborasi menulis antologi narasi "Aku dan Buku". Niat awalnya bermula karena banyak kalangan yang seakan pesimis soal niat baca di Indonesia. "Bukankah masih ada banyak orang yang menyukai bacaan dan terlibat aktif di dalam menyebarkan virus membaca? Ada para pegiat taman bacaan masyarakat, penjual buku, hingga narablog dan pengguna Goodreads yang tidak pasif menyuarakan nikmatnya mencecap pengetahuan dan pengalaman dari sebuah buku. Pengalaman seru seseorang akan buku niscaya akan memberikan sebuah efek berantai yang tak terhitung". Begitu kalimat yang dituliskan Steven di emailnya yang membuat saya akhirnya tertarik dan tertantang untuk menulis. 

Saat itu yang terpikir dalam benak saya adalah bahwa tinggal di sebuah kota yang minim dengan toko buku tidak menjadi alasan untuk menurunkan minat baca saya. Kesibukan kerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga juga bukan batu sandungan untuk membaca buku. Saya menuliskan pengalaman saya melahap buku dalam versi digital, karena memudahkan saya membaca kapan saja dan di mana saja. "Buku di Ujung Jari" adalah satu cerita yang saya bagikan di dalam antologi ini.

Meskipun saya adalah salah satu kontributor dalam buku ini, review saya kali ini mengulas tulisan para kontributor lainnya. Sejujurnya saya sendiri lupa sama tulisan saya, sampai ketika tadi saya membacanya barulah saya ingat.

Buku ini berisi kumpulan kisah pribadi para kontributor terkait buku dan membaca buku. Ada yang membahas tentang perpustakaan, kesukaan membeli buku, buku pertama di masa kecil, asuransi buku, seorang intover dengan buku sampai terjemahan tulisan Nail Gaiman tentang membaca buku. Tapi satu tulisan yang membuat saya terharu sampai mau nangis karena membatin "gilaaa... ini aku banget, duh.. iya kok sama di pikiranku" adalah tulisan Nurina tentang buku romance. Bahwa dengan membaca roman, seseorang bisa jatuh cinta berkali-kali tanpa berselingkuh. Bahwa roman mengajarkan kedewasaan, dan bukan sekadar kisah cinta picisan.

Beberapa waktu lalu ada dokter selebtwit yang melarang followernya membaca buku romance atau nonton drama korea. Katanya bikin hidupmu ga nyata, terjebak dalam romantisme yang tidak ada di dunia nyata. Kurang lebih begitulah. Rasanya pengen ngirimin buku ini ke si bapak biar dia tahu apa yang terjadi pada pembaca romance. Tapi setelah saya mikir2, si bapak mah uangnya banyak. Beli sendiri aja buku ini. Toh keuntungan penjualan buku ini juga akan diberika pada lembaga yang bergerak di dunia literasi. :))

Trus kok ga kasih bintang 5, nggak sayang apa sama buku sendiri? Well... saya juga reviewer. Dan saya harus objektif. Cetakan pertama ini masih banyak typonya... (timbun bapak editor...huahaha). Doakanlah (dan belilah) buku ini supaya ada cetakan berikutnya sehingga typonya bisa diperbaiki. Dan juga kurang tebal sih.


Happy 7th Birthday


Happy 7th Birthday, BBI...

Selamat hari jadi, Bebi. Meskipun sekarang BBI-nya sebagai komunitas sedang hiatus panjang, begitupun dengan beberapa anggotanya. Yang kalau diistilahkan sama anak-anak BBI "blog bukunya berdebu"...hehe.  Tapi saya kira masih ada beberapa yang tetap setia mengisi blog dengan review dan artikel tentang buku.

Saya paham menjaga komunitas dunia maya itu lebih sulit, apalagi jika admin a.k.a pengurus masing-masing sudah sibuk dalam kehidupannya masing-masing (#tunjukdirisendiri) Setidaknya BBI pernah hadir dan menjadi agen literasi di Indonesia meski tidak berumur panjang.

Saya pribadi akan tetap merasa dan menganggap diri bagian dari BBI. Sampai kapan pun. BBI sudah banyak memberikan arti dalam hidup saya. BBI bahkan membantu saya menemukan jati diri saya. Eksistensi saya di dunia maya tidak terlepas dari keberadaan BBI. Komunitas-komunitas tentang buku yang baru akan bermunculan (dan tenggelam). Tapi BBI tetap di hati. #tsaaah


*gambar diambil di sini

#532 Turtles All The Way Down


Judul Buku : Turtles All The Way Down
Penulis : John Green
Halaman : 298  (Kindle Edition)
Penerbit : Dutton Books For Young Readers

"I is the hardest word to define.” 

Itulah yang dirasakan Aza Holmes. Dia tidak bisa dengan gamblang mendeskripsikan apa yang ada di pikirannya kepada orang lain. Yang dia tahu adalah bahwa dirinya bukanlah dirinya tetapi apa yang ada di dalamnya. Termasuk ribuan mikroba yang hidup di dalamnya. Human Microbiome. Setiap hari Aza berusaha menemukan cara untuk menghilangkan pikiran tentang ribuam mikroba itu, salah satunya dengan mengorek luka yang ada di tangannya.  

Suatu hari, Daisy - sahabat Aza- yang pemberani mendengarkan informasi tentang seorang miliuner yang menghilang, Russell Pickett. Ada reward sebesar seratus ribu dollar bagi yang bisa memberikan informasi tentang miliuner tersebut. Daisy, yang mengetahui bahwa Aza pernah berteman dengan Davis Picektt, anak si miluner, mengajak Aza untuk menyelidiki kasus tersebut. Dengan harapan tentunya mendapatkan reward-nya. Usaha mereka membuat Aza kembali dekat dengan Davis, teman dari masa lalunya.

Bertemunya Davis dengan Aza membawa babakan baru dalam hidup Aza. Seperti cinta lama yang bersemi kembali, Aza menjadi lebih dekat dengan Davis. Tetapi kedekatan mereka menjadi masalah bagi Aza yang memiliki anxiety disorder. Misalnya, saat berciuman dengan Davis, Aza merasa saat itu ribuan mikroba dari tubuh Davis menyerang dirinya.

Karakter Aza, secara tidak langsung tentunya mengingatkan pembaca pada Hazel di The Fault in Our Stars, gadis yang bermasalah dengan kesehatan. Namun kali ini Aza berkutat dengan kesehatan mentalnya. Dia merasa dirinya terjebak dalam pikiran spiral yang selalu berulang-ulang sampai dia harus menemukan sesuatu untuk mengalihkannya. Kehilangan ayah secara mendadak di masa lalu mungkin menjadi pemicunya, tetapi Aza sendiri tidak tahu dengan pasti. Namun kehilangan itu membuatnya bisa menempatkan diri dalam "sepatu" Davis yang kehilangan ibu dan kini ayahnya. 

Davis sendiri adalah sosok pemuda dengan hidup yang pahit. Ada bagian dari diri Davis yang tidak menginginkan ayahnya kembali, karena dia merasa ayahnya memang tidak benar-benar ada. Tetapi Noah adiknya sangat menginginkan ayahnya. Davis berada dalam dilema. Kehadiran Aza sempat menjadi satu jalan keluar bagi Davis. Tetapi ketika dia tahu Aza ingin mencari tentang ayahnya, Davis harus berbuat sesuatu.

TATWD merupakan novel yang mengangkat perpaduan kerumitan cinta remaja, misteri hilangnya seorang ayah dan problem kesehatan mental.  Membaca TATWD ini membawa suatu pemahaman baru bagi saya secara pribadi. Orang terdekat saya juga pernah mengalami anxiety disorder. Sungguh bagi orang luar akan sulit sekali memahami apa yang mereka rasakan. Ketika Aza menceritakan apa yang ada di pikirannya, saya jadi bisa selangkah lebih dekat lagi pada pemahaman itu. Mungkin karena itu saya merasa lebih klik dengan karakter Daisy. Sebagai sahabat, Daisy mencoba memahami Aza dengan segala kekurangannya. Tetapi ada suatu titik dimana Daisy merasa jenuh dengan Aza yang terasa self-oriented. Daisy kemudian menggambarkan Aza dalam pikirannya sebagai sebuah karakter dalam fan fiction  Star Wars yang ditulisnya. Tulisan Daisy cukup populer, dan ketika Aza mengetahui tentang hal itu, persahabatan mereka terancam.

Turtles all the way down sendiri merupakan suatu mitos yang mengatakan bahwa dunia ini merupakan bidang datar yang ada di atas punggung seekor kura-kura. Dan kura-kura ini berada di atas kura-kura lainnya, begitu seterusnya tanpa habis-habisnya. Apa hubungannya dengan Aza dan Davis? Silakan cari tahu sendiri.

Btw, sepertinya TATWD ini adalah bacaan berbahasa Inggris saya yang pertama di tahun ini. Banyak nemu kata-kata yang membuat saya harus buka google translate...hehe.. But it's really fun. Dan yang pasti akhirnya bisa selesai membaca novel ini setelah lebih dari 4 bulan nangkring di rak currently reading :)


#531 Aroma Karsa


Judul Buku : Aroma Karsa
Penulis : Dee Lestari
Format digital Part 1-18 (Edisi Berlangganan)
Penerbit : Bookslife

Saat mendapatkan informasi bahwa buku ini akan diterbitkan secara digital, sudah ada niat dalam hati untuk membeli versi digitalnya saja. Apalagi versi digital ini terbit lebih duluan dibandingkan versi cetak. Namun sebagai kolektor buku-bukunya Dewei Lestari, saya pasti akan membeli juga versi cetaknya. Lantas saya teringat IEP yang belum saya baca (baik versi digital maupun versi cetaknya), saya lantas mengurungkan niat membeli buku ini. Hanya saja godaan itu terlalu kuat, dan akhirnya 2 hari sebelum jadwal terbitnya, saya membeli versi cetaknya. Banyak keuntungannya ternyata... selain bisa dapat PO buku versi cetak, dapat diskon 20% juga nantinya.

Membaca buku digital tidak asing lagi bagi saya. Sepanjang tahun kemarin jumlah buku digital (ebook) yang saya baca jauh lebih banyak dari buku cetak. Untuk orang yang (ngaku-ngaku) sibuk kayak saya, membaca buku digital itu sangat menolong. Kapan saja, dimana saja. Tapi membaca buku digital cerita bersambung, itu pengalaman baru. Menantikan dengan sabar setiap Senin dan Kamis ketika ada surel notifikasi dan mengunduh setiap part yang terdiri atas 3 bab cerita atau lebih, percayalah rasanya luar biasa.

Aroma Karsa sendiri bercerita tentang Jati Wesi, seorang pemuda dengan kemampuan penciuman yang di atas manusia biasa. Jati bisa mengidentifikasi apapun lewat baunya. Bahkan badai bisa diprediksinya hanya lewat aroma. Sehari-hari Jati tinggal di Bantar Gebang, tempat pembuangan akhir sampah. Saya membayangkan betapa tersiksanya Jati setiap hari dengan kemampuannya itu. Pekerjaan sambilan Jati sebagai peracik parfum semakin memperkaya kamus penciumannya, tapi juga membawanya ke suatu petualangan dan kehidupan yang baru.
Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Dunia ini sesungguhnya dunia aroma. (Aroma Karsa- Part 5)
Suatu hari Jati diciduk polisi, karena dituduh membuat tiruan Puspa Ananta, serial parfum yang dikeluarkan oleh perusahaan parfum ternama, Kemara. Pemiliknya, Raras Prayagung bersedia membebaskan Jati asalkan Jati mau bekerja untuknya. Raras pun memboyong Jati ke rumahnya, memperlakukannya secara istimewa, sehingga membuat anaknya, Tanaya Suma, merasa cemburu dan tersisihkan. Suma, yang ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan Jati menemukan lawan yang sebanding. Belakangan Jati mengetahui bahwa Raras punya misi tersendiri, menemukan Puspa Karsa, tumbuhan mitos yang mampu mengubah dunia.

Ketika sebuah fiksi menjadi terasa seperti non fiksi, maka penulisnya patut diberikan apresiasi tinggi. Itu yang saya rasakan saat membaca Aroma Karsa. Saya menjura sedalam-dalamnya untuk Dee Lestari. Riset yang dikerjakannya untuk novel ini tidak main-main. Dee sampai belajar ke sekolah parfum di Singapura, terjun ke Bantar Gebang, melakukan analisis mendalam pada dunia balap, dan juga mencari tahu tentang aroma kematian. Dan bagi saya yang istimewa karena novel ini menggunakan anggrek sebagai salah satu unsur penunjang cerita. Anggrek pernah mengantar saya menjadi sarjana dan magister. Tapi riset yang dilakukan Dee tentang anggrek dalam novel ini sungguh luar biasa. 
Andai bunga-bunga di dunia bisa berbicara, mereka akan  menyatakan kecemburuannya kepada bangsa anggrek. Tidak ada bunga lain di dunia yang dapat membuat manusia lebih tergila-gila (Aroma Karsa - Part 2)
Aroma Karsa bukan hanya semata-mata berkisah tentang dunia penciuman saja. Tetapi ada unsur sejarah yang dimasukkan ke dalamnya, tentang kerajaan Majapahit di masa lampau. Dee juga menyertakan suatu dunia mistis berisi makhluk-makhluk istimewa dengan mengambil latar belakang Gunung Lawu yang terkenal dengan misteri dan mitosnya. Tidak ketinggalan bagian romansanya. Khusus bagian ini, rangkaian kalimat yang digunakan terasa erotis tanpa ada adegan yang perlu disensor. Bikin deg-degan. Aroma Karsa sungguh sebuah paket lengkap. Menutup halaman terakhir di layar handphone saja menyisakan mabuk yang membuat saya susah beralih. Tapi jujur saja, saya tidak ingin ada Aroma Karsa jilid kedua atau sekuelnya. Saya tidak ingin Aroma Karsa diadaptasi menjadi film. Yang saya inginkan adalah ada bonus minitube parfum Puspa Ananta #eh.

Menjadi bagian dari pembaca Edisi Berlangganan Aroma Karsa  juga adalah pengalaman istimewa, karena kami mendapat kesempatan bergabung dalam grup facebook yang diberi nama Tribe Aroma Karsa. Di situ, pembaca dapat berinteraksi langsung dengan Dee Lestari. Bahkan Dee berbagi tentang pengalaman risetnya. Pada tanggal 14 Februari, Dee dan suami (Reza Gunawan) bahkan membuat mini konser untuk semua penghuni Tribe Aroma Karsa. Tim dari Bookslife pun selalu sigap membantu jika ada pelanggan yang mengalami kesulitan dalam mengunduh part Aroma Karsa.

Selain versi digital, tentunya ada Aroma Karsa versi cetak. Saya belum membaca versi cetaknya. Tapi saya kira tidaklah berlebihan jika saya merekomendasikan buku ini untuk dikoleksi, dibaca berkali-kali, diteruskan kepada anak cucu. Suatu saat nanti jika novel ini menjadi karya klasik, saya membayangkan novel ini bisa menjadi satu acuan sastra dan literasi, bahwa ada novel yang fenomenal di jamannya pernah hadir.

UPDATE:  Ternyata terdapat beberapa perbedaan antara versi digital dan versi cetakan pertama. Untuk mengetahui letak perbedaannya silahkan menuju ke http://bit.ly/AK-Penutup


#530 The Rosie Effect


Judul Buku : The Rosie Effect
Penulis: Graeme Simsion
Halaman : 464
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Hampir dua tahun lamanya sejak saya membaca The Rosie Project, akhirnya saya membaca sekuelnya, The Rosie Effect. Masih bercerita seputar kehidupan Don Tillman dan Rosie. Kalau belum membaca buku pertama, saya sarankan lebih baik membaca buku itu terlebih dahulu sebelum melahap buku kedua ini. 

Setelah menikah, Don dan Rosie pindah ke Amerika karena Rosie melanjutkan sekolah S2nya di bidang kedokteran sambil menyelesaikan S3 di bidang psikologi. Sementara itu Don bekerja di Fakultas yang sama sebagai associate professor bidang genetika. Hidup mereka masih sama, dalam artian Don dengan segala keteraturannya, Rosie berusaha mengikuti. 

Sampai Rosie menyampaikan bahwa dirinya hamil. Bagi Don, hamil belum masuk ke dalam rencana hidupnya hingga bertahun-tahun ke depan. Di saat yang bersamaan, Gene (sahabat Don dari Australia) akan datang ke Amerika karena berpisah dengan Claudia istrinya. Rosie sendiri tidak begitu menyukai Gene karena proyek aneh Gene tentang meneliti perilaku seks wanita dari tiap negara dengan objek uji adalah Gene sendiri. Iya...dia sudah berhubungan seks dengan lebih dari 26 wanita, hal yang akhirnya membuat Claudia memutuskan untuk berpisah. Dan Don tahu Rosie tidak akan setuju jika Gene hidup bersama mereka. Dua hal itu cukup membuat Don harus menata ulang hidupnya. 

Kalau di buku #1, Don mengerjakan Proyek Istri, kali ini Don memiliki Proyek Bayi. Kehadiran BUD (Baby Under Development) - begitu cara Don menyebut calon bayinya- membuat kehidupan Don berubah drastis. Target utama Don saat ini adalah mencegah Rosie mengalami stres yang akan mempengaruhi kehamilannya. Don yang sangat teoritis, memandang segala sesuatunya berdasarkan prinsip ilmiah, akhirnya harus mengalami berbagai kesulitan. Ditangkap polisi, berurusan dengan dinas sosial, hingga menghadapi kenyataan Rosie menginginkan perpisahan.

Pada dasarnya Don mengalami stres menjadi calon ayah. Dia tidak pernah berurusan dengan anak kecil, belum tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai seorang ilmuwan Don mengandalkan cara-cara ilmiah untuk belajar menjadi seorang ayah. Meski aneh, sebenarnya Don cukup romantis. Salah satunya adalah dengan menggambar tahapan perkembangan BUD setiap minggunya pada ubin ruang kerjanya. Dia pun menjaga asupan gizi Rosie, melarang Rosie mengonsumsi hal-hal yang membahayakan janinnya. Yang lucu adalah ketika Rosie ingin memakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang menurut Don berbahaya, Rosie akan menyebutkan sumber ilmiahnya lengkap dengan sitasinya. Dan Don langsung diam disodorkan bukti ilmiah itu. LOL.

Saya teringat perkataan Don di buku The Rosie Project, bahwa cinta seharusnya bukan ilmu eksakta. Demikian pula dengan menjadi orangtua. Lihat saja Don, dengan segala litratur ilmiah tentang kehamilan, apa yang dia dapatkan? Lebih banyak kesulitan. Tapi Don tetaplah Don. Dia yakin cara ilmiah selalu berperan dalam hidupnya. 

Saya merekomendasikan novel tentang kehamilan yang "cukup ilmiah" ini untuk dibaca oleh calon orangtua. But please... gak perlu sampai meniru Don ya... Novel ini sangat menghibur dengan caranya sendiri.