~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#651 Little Fires Everywhere


When we try to turn a concept as huge and multifaceted as motherhood into an ideal, we lose sight of all the complexities of what being a mother actually means. (Celeste Ng)

Sejarah dan takdir menggariskan ketika perempuan dilahirkan, suatu saat nanti akan ia menjadi ibu, bagaimana pun caranya. Saat seorang perempuan kemudian memilih tidak menjadi ibu, muncullah penghakiman. Bahkan saat seorang perempuan memutuskan menjadi ibu, tetap ada persoalan. Cara mengandung, cara melahirkan, cara menyusui, cara membesarkan anak, cara mendidik anak semuanya menjadi bahan perdebatan. Welcome to motherhood world!

Perihal keibuan ini Celeste Ng angkat  lewat novel-nya, Little Fires Everywhere. Novel yang akan menghadirkan beberapa perempuan dan pilihannya dalam menjalani status keibuan
Ada Elena Richardson. Ia tumbuh dan besar di sebuah kota bernama Shaker Heights di negara bagian Ohio. Elena gambaran perempuan Shaker Heights ideal. Wanita karier yang mapan, memiliki suami seorang pengacara, rumah besar, dan tentunya keteraturan hidup. Elena menjalani kehidupan yang tertata dan disiplin. Menimbang badan sekali seminggu, sarapan dengan satu setengah gelas sereal, dan melahirkan anak-anak dengan jeda waktu yang teratur. Dia punya rencana dan meyakininya. 
Kelahiran anak bungsunya, Isabelle, bak duri dalam daging bagi Elena. Tidak ada keteraturan ada dalam diri Izzy – nama panggilan si anak bungsu. Izzy pemberontak yang selalu dianggap melakukan kesalahan di mata ibunya. Ketika rumah mereka terbakar habis pada suatu musim panas, Elena yakin Izzy pelakunya. 

Di  Shaker Heights ada rencana untuk segalanya… Filosofi dasarnya adalah segalanya bisa –dan seharusnya-direncanakan, dan dengan melakukan itu maka kita bisa menghindari hal yang tidak patut, tidak menyenangkan dan bencana” (hlm. 17)

Lalu, ada Mia Warren.  Ia seorang seniman fotografi dan bersama putrinya, Pearl, hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk mencari inspirasi baru. Semasa muda, Mia memutuskan untuk menjadi surrogate mother (seorang ibu yang melahirkan anak untuk perempuan lainnya, baik itu menggunakan sel telur dari si ibu ataupun impantasi sel telur perempuan lain yang telah dibuahi pada rahimnya), demi membiayai mimpinya menjadi seorang seniman. 

Mia sosok ibu yang mencerminkan kebebasan sekaligus kemandirian. Saat tiba di Shaker Heights, Mia bekerja sambilan untuk sekadar mendapatkan uang demi menghidupi dirinya dan Pearl. Ia bahkan bekerja menjadi pramuwisma di rumah keluarga Richardson hanya agar tidak ada permusuhan antara dirinya dan induk semangnya, Elena. Mia tahu Elena ingin menunjukkan superioritas atas dirinya. Setidaknya masalah uang sewa apartemen  bisa teratasi sekaligus Mia dapat mengawasi Pearl yang semakin akrab dengan anak-anak Richardson.

Ada juga Bebe Chow. Ia imigran dari Kanton, Tiongkok dan datang ke Amerika mengikuti kekasihnya. Sayangnya, ketika dia hamil, kekasihnya meninggalkannya. Bebe memutuskan mempertahankan kandungannya dengan bekerja sebagai pelayan. Kelahiran sang bayi membuat Bebe tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka berdua. Dalam keadaan capek luar biasa dan melihat si kecil tidak mau menyusu, Bebe memutuskan untuk menitipkan bayinya di depan gedung pemadam kebakaran. Ia menyertakan pesan agar seseorang mau merawat sang bayi yang diberi nama May Ling. Ini sulit tapi tidak ada jalan lain bagi Bebe. 

May Ling diadopsi oleh keluarga McCullough dan diberi nama Mirabelle. Linda McCullough seorang wanita yang putus asa untuk mendapatkan bayi dari rahimnya sendiri. Setiap kali dia mengandung, bayinya akan keluar sebelum mencapai waktunya. Kehadiran Mirabelle bagai oasis yang menyegarkan kekeringan hatinya. Linda menyadari anaknya yang berasal dari ras China-Amerika perlu terhubung dengan latar belakang keluarga asalnya dari Tiongkok. 

Sementara Elena berkutat dengan kesempurnaan, putrinya, Lexie, memutuskan untuk tidak menjadi ibu karena tidak ingin terlibat masalah besar. Sayangnya Lexie menyelesaikan masalahnya dengan melemparkannya kepada Pearl. Ketika tanpa sengaja Elena menemukan catatan aborsi Pearl ketika berada di sebuah klinik, Elena merasa memiliki bahan bakar untuk menyalakan api yang lebih besar untuk Mia.  

“Apa yang menjadikan seseorang seorang ibu? Apa itu berdasarkan biologi, ataukah kasih sayang?” (hlm. 282)

Elena dan Mia adalah dua kutub yang bertolak belakang. Elena penuh keteraturan, sedangkan Mia memilih berpihak pada kebebasan. Di sisi seberang Bebe dan Linda bagaikan dua ibu di hadapan Raja Salomo yang berebut hak atas seorang anak. Bebe merasa layak sebagai ibu karena melahirkan, sedangkan Linda menganggap kasih sayangnya yang begitu besar memampukannya menjadi ibu bagi Mirabelle. 

Penulis ingin menampilkan banyak masalah tentang motherhood; bagaimana motherhood  diciptakan, bagaimana menjadi seorang ibu, bagaimana hal itu dipertahankan, dan bagaimana seorang ibu menjadi keras terhadap ibu lainnya. Para ibu saling menghakimi, dan menuntut standar kesempurnaan. Hingga akhirnya api-api kecil menjadi besar dan membakar habis kesempurnaan yang diunggulkan Shaker Heights.  Bukankah ini yang sering kita saksikan sehari-hari? Saling hakim terjadi antara ibu karier dan ibu rumahan,antara  ibu yang melahirkan normal dan ibu yang melahirkan caesar, antara ibu yang eksklusif memberi ASI dan susu formula. Tidak ada habis-habisnya. Setiap ibu ingin melindungi anaknya sekaligus nilai-nilainya sendiri.

 “Bagi orangtua, anak bukan sekadar seseorang: anak adalah tempat, semacam Narnia, alam abadi luas tempatmu menetap masa sekarang, masa lalu yang kau kenang, dan masa depan yang kau inginkan ada sekaligus.” (hlm. 136.)

Celeste Ng sendiri juga seorang ibu. Naluri keibuannya pula yang membuatnya terlibat dalam sebuah kontroversi rasisme di media sosial beberapa waktu lalu. Karya debutnya “Everything I Never Told You” mengangkat masalah rasisme dengan tokoh seorang Asia-Amerika seperti dirinya. Dalam sebuah cuitannya di akun twitter miliknya (@pronounced_ing) di tahun 2015, ia menuliskan bahwa dia jarang menemukan lelaki asia atraktif. Suami Celeste Ng adalah seorang kulit putih, sehingga hal ini mengundang reaksi negatif dari beberapa pihak, khususnya lelaki Asia, yang menganggap Celeste Ng rasis dan membuat stereotip bahwa orang Asia tidak menarik. 

Salah satu reaksi itu berasal dari seseorang yang bernama Brandon Ho. Dalam surat yang dikirimkannya lewat website pribadi Celeste Ng, Brandon menuliskan bahwa dia ingin melihat anak Celeste bertumbuh dan berpikir bahwa ibunya menganggap dia jelek. Celeste Ng menanggapi surat Brandon dengan menyebutkan bahwa ada beberapa lelaki asal Asia yang melecehkan feminis Asia hanya karena menikah dengan ras lain. Itu seperti misogyny yang bersembunyi di balik topeng anti rasisme. Kasus ini merebak dan ditanggapi oleh beberapa media, seperti Kulture (sebuah media Asia) yang menyayangkan tanggapan Celeste yang menyudutkan satu ras tertentu. Celeste Ng yang menikah dengan seorang pria Amerika dan tinggal di Amerika dianggap mempunyai kekuatan mempengaruhi pembaca kulit putih lainnya dalam stereotip ini. Kontroversi Celeste Ng terkait rasisme, pelecehan dan misogyny ini seperti api-api kecil yang membesar dan membakar media sosial. 

“Semua orang memandang ras, Lex”, bantah Moody. “Satu-satunya perbedaan adalah siapa yang berpura-pura tidak melakukannya”. (hlm. 52)

Pada akhirnya di tahun 20186, Celeste Ng meminta maaf atas pernyataannya tentang lelaki Asia itu. Walaupun demikian,  sebagai keturunan China-Amerika, Celeste Ng mengatakan bahwa dia akan selalu menulis tentang rasisme. Sebagai seorang non-white person, masalah tersebut selalu muncul dalam pikirannya. Hal ini memang terasa dalam dua karya Celeste. Meskipun tokoh utama dalam Little Fires Everywhere bukan seorang China-Amerika, hubungan antar ras juga menjadi isu penting dalam novel ini. Pada masa pemerintahan Donald Trump di tahun 2018, banyak kebijakan yang akan mempengaruhi orang dengan kulit berwarna yang tinggal di Amerika. Celeste berkata sudah menjadi tanggung jawabnya untuk mendukung perjuangan ras dari kulit berwarna lewat karya-karyanya. 

"These little fires have been burning for a very long time and now they have grown into a giant fire that we have to work together to put out." (Celeste Ng)


Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Ruang dengan judul Api Kecil yang Membakar Status Keibuan


Little Fires Everywhere
Celeste Ng
368 halaman
Penerbit Spring
September, 2017




#650 My Not So Perfect Life


Semoga kehidupan kalian akan sesuai dengan foto-foto di Instagram kalian. —Sophie Kinsella

Belum lama ini netizen dikejutkan dengan berita gugat cerai pasangan selebritas yang selama ini jauh dari gosip keretakan rumah tangga. Macam-macam reaksi netizen menyeruak. Salah satunya  berhubungan dengan media sosial yang mengatakan bahwa feed Instagram tidak selamanya nyata bahagia. Media sosial merupakan kemajuan teknologi yang menjadi medium bagi setiap orang untuk lebih dekat dengan pikiran, perasaan, dan kehidupan orang lain. Sayangnya, media sosial tidak dirancang untuk menampilkan pribadi yang sesungguhnya. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa Instagram merupakan media sosial yang berpengaruh buruk bagi kesehatan mental. Tekanan untuk tampil sempurna setiap waktu secara daring benar-benar nyata.

Instagram memiliki penggalan kata ‘insta’ yang secara terminology berasal dari kata instant atau instan. Lebih lanjut, materi visual di Instagram diproduksi atau di-posting dengan cepat. Kenyataannya, setiap foto yang ditampilkan di Instagram mesti terkonsep, diambil berulang kali hingga diperoleh hasil foto terbaik, diberi filter, lalu di-posting menggunakan caption yang menggugah. Semua itu demi kesempurnaan. 

Kesempurnaan itulah yang dilakukan oleh tokoh Katie Brenner dalam My Not So Perfect Life karya Sophie Kinsella. Ia gadis desa dari Somerset yang mengubah namanya menjadi Cat Brenner semenjak berkarier di London. Untuk meyakinkan banyak orang—termasuk orang tuanya—bahwa berkarier di London adalah pilihan yang tepat, Katie menata Instagram-nya sedemikian rupa untuk menampilkan hidup sempurnanya. Tidak jarang, Katie menyambangi kafe-kafe mahal untuk berburu foto yang instagrammable, hanya sekadar mendapatkan komentar bahwa kehidupannya di London menyenangkan.

Banyak orang menggunakan filter atauapa pun di Instagram. Nah, filter  yang  kugunakan adalah “seperti inilah yang kuinginkan”. Suatu hari nanti hidupku akan sesuai dengan foto-foto Instagram-ku. (hlm. 73)

Jika pada beberapa novel chick lit sebelumnya, Sohie Kinsella fokus pada kisah percintaan antara pria dan wanita, novel My Not So Perfect Life ini mengutamakan hubungan antara Katie dengan atasannya, Demeter Farlowe, yang juga seorang wanita. Berbeda dengan Katie, Demeter memiliki semua yang diinginkan Katie dalam hidupnya. Pekerjaan, keluarga, kepribadian cool yang terpancar dari dirinya. Pakaiannya selalu berlabel merek ternama. Ia hanya menggunakan barang-barang yang autentik dan organik. Ruang kerja Demeter dipenuhi trofi penghargaan dan foto-fotobersama orang-orang penting. 
Setiap hari Katie mencari jalan untuk menunjukkan kemampuan dalam hal membuat branding kepada Demeter. Dia bahkan rela diminta melakukan hal remeh seperti mengecat akar rambut Demeter, demi kesempatan untuk lebih dekat dengan Demeter. Hingga suatu hari Katie dipecat oleh Demeter tanpa penjelasan. Katie terpaksa pulang kampung dan mengurusi usaha glamping milik keluarganya yang bernama Ansters Farm. Kesempatan untuk membalaskan sakit hatinya tiba saat Demeter bersama suami dan kedua orang anaknya tiba-tiba datang ke Ansters Farm untuk berlibur.  Saat itulah, Katie menyadari bahwa hidup Demeter tidak sepenuhnya sempurna. Demeter sepertinya mengalami gejala demensia, yang menyebabkan hidupnya serampangan. Suami dan kedua anaknya seakan tidak peduli dengan kesuksesannya, dan di atas semua itu Demeter juga terancam dipecat dari kantor. 

Tiap kali kau melihat sisi gemerlapan orang lain, ingatlah bahwa mereka pun memiliki kebenaran yang payah. (hlm. 406)

***

Chick lit merupakan genre novel yang (umumnya) ditulis oleh wanita dan membahas tentang isu-isu kotemporer yang dihadapi wanita usia dewasa, bagaimana ia mengatasi permasalahannya, dan menjalani kosekuensi dari pilihannya. Selama satu dekade terakhir, genre ini mengalami penurunan popularitas, karena dianggap hanya fokus pada masalah konsumerisme dan materialisme. Meski demikian pembaca tetap menyukai novel yang tokoh utamanya adalah seorang wanita dalam genre lainnya, misalnya dystopia atau paranormal romance. 

Salah satu penulis yang bertahan di genre chick lit adalah Sophie Kinsella, meskipun sempat mengeluarkan novel Young Adult di tahun 2016 berjudul Finding Aubrey. Kinsella mendapatkan gelar sebagai “the queen of chick lit” melalui serial terkenal : Shopaholic.  Beberapa novel stand-alone karyanya juga menjadi bestseller, karena karakter wanita tokoh utamanya terasa nyata. Kinsella menyebutkan bahwa dia berusaha menciptakan cerita yang lucu namun tetap membuat pembaca berpikir sambil terus membalik halaman novelnya. Kinsella selalu ingin memotivasi pembacanya lewat karakter wanita tokoh utama yang bisa menemukan dirinya sendiri di tengah kekacauan hidup. Seperti Katie Brenner, dalam My Not So Perfect Life. 

Novel ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama mengambil latar belakang kota London yang padat dan ramai. Pada bagian ini diceritakan upaya yang dilakukan Katie untuk mengejar citra wanita karier yang sempurna. Katie mencoba masuk dalam gaya hidup orang kota, agar bisa menyerupai dan dekat dengan Demeter.  

Pada bagian kedua, adalah kisah pasca pemecatan Katie dengan latar belakang Somerset, khususnya di Ansters Farm. Usaha glamping yang dibangun oleh Katie dan keluarganya dari nol mulai memberikan hasil yang diharapkan. Katie bisa memberikan bukti nyata kemampuannya dalam hal branding dan strategi pemasaran. Sebaliknya Demeter yang sudah memiliki karier sempurna di mata Katie, harus menerima kenyataan bahwa suami dan kedua anaknya mengabaikan dirinya. Demeter bahkan mendapatkan kabar buruk dirinya akan dipecat dari kantor. 

Katie dan Demeter ada dalam tahapan hidup yang berbeda, dengan masalah terpisah, dan tidak bisa memahami satu sama lain. Namun, saat keduanya berhenti untuk merekayasa hidup masing-masing, dan saling memahami, satu per satu masalah yang mereka hadapi dapat terurai. 

Upaya Kinsella memasukkan unsur media sosial dalam novel ini terhitung berhasil.  Pembaca yang akrab dengan media sosial, khususnya Instagram, akan merasakan langsung keterhubungan diri dengan karakter Katie. Beberapa kali Katie menghabiskan waktu untuk memandangi akun Instagram kawan-kawannya dan merasa iri dengan kehidupan mereka. Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat dewasa ini:  Instagram envy, keinginan untuk memiliki kehidupan yang ditampilkan oleh orang lain di Instagram.

Kinsella menyadari pentingnya media sosial untuk berinteraksi dengan penggemarnya. Di dalam novel, diceritakan bahwa Katie membuat akun Instagram @mynotsoperfectlife, untuk menampilkan bahwa di dunia ini ada banyak orang yang memiliki kehidupan yang tidak sempurna. Sesungguhnya akun itu benar ada di Instragram dan dikelola langsung oleh Kinsella. Jika kamu ingin kehidupan tidak sempurna milikmu ditampilkan dalam feed Instagram tersebut, silakan menyertakan fotomu dengan tagar #mynotsoperfectlife.

* Tulisan ini pernah diterbitkan di Jurnal Ruang dengan judul Merekayasa Hidup Menjadi Sempurna.


My Not So Perfect Life - Hidupku Yang Tak Sempurna
Sophie Kinsella
432 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Februari, 2017